Industri Makanan Ancang-Ancang Naikkan Harga

Kamis, 24 Januari 2008 | 02:08 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Industri makanan akan menaikan harga jika harga bahan baku akan terus kenaikan. Kalangan pengusaha menyatakan tak mampu lagi mengurangi keuntungan dan akan membebankan tambahan biaya produksi ke konsumen.

"Kami sudah menekan margin keuntungan selama 2007, apabila kenaikan harga berlanjut akan ada penyesuaian harga yang seluruhnya dibebankan kepada konsumen," ujar Managing Director Garudafood Hartono Atmadja, Rabu (23/1).

Pada 2007, kata Hartono, perusahaan telah menekan margin keuntungan sebesar 1,5 persen. Menurut dia, produk yang mengalami kenaikan terutama yang menggunakan bahan baku terigu, seperti biskuit dan sebagian makan ringan. "Kalau minuman itu tergantung harga kemasan, saat ini belum ada kenaikan dari pemasok," ujarnya.

Hartono menjelaskan, kenaikan bahan baku sejak akhir tahun lalu diluar perkiraan pelaku industri. "Kenaikkannya memberatkan terutama untuk tepung terigu, minyak goreng dan solar," katanya.

Meski dalam situasi berat, katanya, Garudafood tetap mengupayakan mengejar target pertumbuhan 20 persen. Target ini lebih baik dibandingkan pencapaian 2007 sekitar 17 persen. Pada 2006 pertumbuhan penjualan mencapai 24 persen. "Meski ada kenaikan harga bahan baku, kami belum membuat revisi target karena masih di awal tahun," ujar Hartono. Perusahaan akan melakukan efisiensi internal dan mengupayakan mencari sumber bahan baku yang lebih baik.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan mengatakan, pemerintah harus serius memenuhi janjinya memberikan pembebasan pajak penjualan dan penurunan bea masuk untuk produk terigu. "Jika dibiarkan maka kenaikan harga produk makanan terus melonjak," katanya.

Menurut Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani, proyeksi pertumbuhan industri makanan dan minuman 6-7 persen pada tahun ini, jauh dibawah target pemerintah 10-20 persen. "Dengan kenaikan harga bahan baku, kemungkinan pertumbuhan sama dengan tahun lalu sekitar tujuh persen," tuturnya.

Target pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar tujuh persen karena mempertimbangkan kenaikan belanja menjelang pemilihan umum dan kepala daerah.
"Potensi permintaan dalam negeri meningkat akan mengangkat pertumbuhan industri makanan dan minuman tahun depan," ujarnya.

Tanpa ada peningkatan konsumsi, pertumbuhan industri makanan dan minuman jauh lebih rendah. Alasannya, tekanan bahan baku seperti gandum, jagung, minyak sawit mentah, susu, gula sungguh memberatkan pelaku industri.

YULIAWATI

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :