Lima PLTU Luar Jawa Mundur Hingga 2011
Kamis, 24 Januari 2008 | 22:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pembangunan lima Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 10
ribu Mega watt di Luar Jawa mundur hingga 2011.
Ketua Tim Proyek Percepatan Pembangunan PLTU 10 Ribu MW, Yogo Pratomo, mengatakan kelima proyek tersebut ditunda karena pada lokasi yang sama terdapat proyek pembangunan pembangkit listrik swasta (IPP). "Ditunda hingga 2011," kata Yogo seusai rapat dengar pendapat PLN dengan Komisi Energi, di DPR, Jakarta, Kamis (24/1).
Menurut Yogo, kelima proyek PLTU 10 Ribu MW tersebut akan digabung dengan proyek pembangunan pembangkit listrik swasta. Kelima proyek tersebut antara lain PLTU 1 Sumatera Utara (2x100-150 MW) digabung dengan PLTU 2 Sumatera Utara, PLTU 1 (2x10 MW) dan PLTU 2 (2x10 MW) Bangka Belitung digantikan IPP, PLTU 2 Kalimantan Tengah (2x7MW) digantikan dengan IPP, serta PLTU 1 Sulawesi Utara (2x25 MW) digantikan IPP.
Sementara itu, untuk proyek PLTU 10 ribu MW di lokasi Jawa, salah satu bank yang mendanai proyek itu menyatakan mundur. Bank tersebut, ABN Amro, mengundurkan diri dari pendanaan proyek PLTU Labuan, Banten (2x315 MW). ABN Amro mengundurkan diri dari pendanaan valas (valuta asing) proyek tersebut.
Yogo mengaku tidak mengetahui alasan pengunduran diri ABN Amro. Bank tersebut seharusnya menyediakan pendanaan valas senilai US$ 288,557 juta. "Itu internal ABN Amro," ujarnya.
Antisipasinya, menurut Yogo, pendanaan akan dicari dari konsorsium bank pemerintah (BUMN). Pendanaan valas PLTU Labuan dari konsorsium bank pemerintah ditargetkan selesai Maret 2008. "Sesuai keputusan Depkeu diganti konsorsium bank pemerintah," katanya.
Yogo melanjutkan, Depkeu dan PLN sedang melakukan pendekatan dengan tiga bank pemerintah, yaitu Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank BRI. Yogo berharap bank pemerintah memberikan bunga yang sama dengan Bank Exim China atau Barclays.
Saat ditanya wartawan apakah pengunduran diri ABN Amro berkaitan dengan permintaan Bapenas agar PLN tidak menambah beban utang luar negeri, Yogo membantahnya. "Tidak, bukan karena itu," ujarnya.
Proyek PLTU Labuan senilai Rp1,538 triliun dan US$ 373,427 juta. Selain pinjaman rupiah dan valas, pembiayaan proyek PLTU Labuan juga berasal dari anggaran PLN dan pinjaman rupiah dari Bank BCA senilai Rp1,188 triliun. Nieke Indrietta





