Kerugian Kredit Macet Perumahan Capai Rp 2.500 Triliun

Jum'at, 01 Februari 2008 | 01:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kerugian akibat kredit macet hipotek perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat membengkak hingga US$ 265 miliar (sekitar Rp 2.500 triliun). Angka ini setara dengan tiga kali lipat anggaran belanja Indonesia 2008 sekitar Rp 854 triliun. Seperti dikutip dari Bloomberg, kerugian bersumber dari penurunan nilai aset (write down) sejumlah perusahaan keuangan.

Pada saat yang bersamaan, lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor's juga menurunkan peringkat surat utang dan jaminan utang kredit perumahan kelas dua senilai US$ 534 miliar. Penurunan peringkat ini mengakibatkan indeks sejumlah bursa utama di dunia turun.

S&P memprediksi badai krisis juga akan menerpa sejumlah lembaga keuangan berskala lebih kecil di Eropa, Asia dan Amerika Serikat. Hampir separuh kredit subprime yang diperingkat oleh lembaga ini pada 2006 dan awal 2007, diturunkan atau ditinjau kembali. Perusahaan yang diturunkan peringkatnya ini adalah lembaga yang mengelola US$ 270,1 miliar kredit subprime dan US$ 263,9 miliar jaminan utang.

Kredit macet mengakibatkan UBS, bank terkemuka dari Swiss, merugi sekitar US$ 18 miliar selama 2007. Jumlah kerugian pada kuartal keempat tahun lalu mencapai US$ 11,5 miliar.

Para analis memperkirakan penurunan aset (write down) bank ini sekitar US$ 6,9 miliar. Sementara para pimpinan UBS menduga bahwa besarnya kerugian sekitar US$ 10,5 miliar. UBS dikabarkan sedang mencari suntikan dana segar sekitar US$ 17,7 miliar, yang berasal dari investor Singapura atau Timur Tengah.

Dua bank asal Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group and Mizuho Financial Group ikut pula terkena imbas. Pada 2007, keuntungan kedua bank ini merosot dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih Mitsubishi UFJ sejak April hingga Desember 2007, adalah 315 miliar Yen, turun 54,4 persen dibandingkan periode yang sama 2006, 691 miliar Yen.

Sementara laba bersih Mizuho Financial Group merosot 32,2 pesen dibandingkan periode yang sama 2006. Sejak April hingga Desember, laba bersih hanya 393 miliar Yen, lebih rendah dibandingkan 2006 yaitu 580 miliar Yen.

Krisis kredit perumahan kelas dua ini telah menelan banyak korban lainnya. Beberapa waktu lalu, bank asal Prancis Societe General mengumumkan kerugian sekitar 2 miliar Euro (setara dengan Rp 26 triliun). Keuntungan bersih SG tahun lalu merosot menjadi 600-800 Juta Euro. Padahal tahun sebelumnya, keuntungan yang dibukukan senilai 5,2 miliar Euro.

Bloomberg | AP I Reuters I Dewi Rina






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: