Operator Tak Ingin Keuntungan Berkurang
Senin, 04 Februari 2008 | 00:16 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Hingga detik-detik terakhir pembahasan penurunan tarif telepon, operator telekomunikasi ingin pemerintah mengambil opsi yang menguntungkan mereka. Alasannya, biaya operasional telepon tetap lebih tinggi dibanding harga yang diterapkan tahun lalu.
Director dan Chief Corporate PT Mobile-8 Merza Fachys berharap pemerintah bijaksana dalam menerapkan tarif interkoneksi. Ia mencontohkan, jika disetujui formula tarif nonsubsidi beban operasional tarif tetap bisa tertutup. "Cost untuk menyelenggarakan fixed phone lebih dari Rp 73,” katanya kepada Tempo akhir pekan lalu.
Bahkan PT Indosat Tbk. ingin formula tarif interkoneksi memberi keuntungan yang seimbang pada tarif interkoneksi seluler dan telepon tetap. “Karena Indosat penyelenggara fixed dan seluler,” katanya akhir bulan lalu di Djakarta Theater, Jakarta. Tapi ia menyadari tak mudah untuk memberikan keseimbangan keuntungan itu.
Pemerintah sudah menyelesaikan rancangan formula baru tarif telepon akhir pekan lalu. Formula ini akan membuat penurunan tarif 20-30 persen, yang akan berlaku April nanti. Rencananya, formula diumumkan 31 Januari lalu tapi ditunda hari ini. "Pak Menteri akan mengumumkan langsung. Beliau hari ini melapor ke Presiden," ujar juru bicara Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Gatot S. Dewa Broto Jumat lalu.
Seperti diberitakan koran ini, dalam pembahasan terjadi tarik menarik formula tarif telepon tetap. Pembahasan alot tentang alternatif pencabutan subsidi dari SLJJ ke telepon tetap atau subsidi tetap diberikan karena alasan kondisi ekonomi dan politik.
Merza menuturkan topik yang hangat dibahas dalam pertemuan yang diikuti pemerintah, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, dan operator, adalah biaya telepon tetap yang dikompensasikan ke telepon seluler dan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ).
Namun, belum dibahas asumsi tentang trafik masing-masing operator. Diskusi juga diwarnai iklim persaingan antaroperator. "Fixed wireless acces (telepon tetap tanpa kabel) diperlakukan seperti PSTN (Public Switched Telephone Network/jaringan telepon tetap kabel). ini menjadi lebih hangat juga.”
Muncul pula beberapa alternatif formula yang diajukan kepada pemerintah. Merza berharap kebijakan pemerintah nanti tak menguntungkan salah satu pihak, melainkan untuk menyelematkan industri telekomunikasi.
Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia Heru Sutadi meminta operator tak khawatir dengan formula tarif yang baru. Meski formula baru memang akan menurunkan tarif retail seluler untuk masyarakat. "Pasar telekomunikasi Indonesia cukup luas dan mengarah pada segmentasi pasar," ucapnya kepada Tempo.
Berdasarkan analisis Goldman and Sach dan Morgan Stanley, ia meneruskan, tarif seluler di Asia Pasifik cukup mahal. Nah, jika tarif diturunkan akan membuat tarif yang lebih terjangkau bagi publik sehingga tak menjadi faktor penambah inflasi di tengah kekhawatiran resesi global.
Jobpie Sugiharto | Dian Yuliastuti




Komentar Anda :