BP Migas Tak Mampu Tekan Biaya Produksi
Selasa, 05 Februari 2008 | 02:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pembengkakan biaya produksi dan pengangkatan minyak (cost recovery) sulit ditekan akibat kenaikan harga minyak dunia. Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Kardaya Warnika mengatakan, kenaikan harga minyak menyebabkan kenaikan harga pada peralatan pengeboran. "Mau tidak mau biaya naik," ujarnya, Senin (4/2).
Tahun lalu, besaran biaya cost recovery untuk seluruh kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mencapai US$ 8,33 miliar atau Rp 77,4 triliun. Terdiri US$ 4,802 miliar (Rp 44,6 triliun) untuk memproduksi minyak dan US$ 3,535 (Rp 32,8 triliun) untuk memproduksi gas. Total angka tersebut lebih tinggi dibandingkan cost recovery 2006 sebesar US$ 7,8 miliar atau Rp 72,5 triliun
Laporan tertulis BP Migas kepada Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat pada 23 Januari lalu menyatakan, perincian biaya tersebut terdiri atas cost recovery Pertamina EP US$ 1,956 miliar, kontrak bagi hasil US$ 161 juta dan KKKS US$ 6,219 miliar.
Kardaya menjelaskan, biaya pada 2007 lebih tinggi dibanding 2006 karena biaya pengeboran yang tinggi akibat kenaikan harga minyak dunia.
Meskipun demikian, kata Kardaya, angka cost recovery 2007 lebih kecil daripada angka prediksi dalam rencana kerja dan anggaran (work program and budget/ WP&B). Kardaya juga memperkirakan angka cost recovery 2008 lebih kecil dari WP&B tahun ini. "Realisasi biaya biasanya lebih kecil dari rencana," katanya.
Mengenai produksi minyak, Kardaya mengatakan, berdasarkan WP&B yang diserahkan oleh KKKS diperkirakan ada potensi kenaikan produksi hingga 1,050 juta barel per hari. "Produksi minyak kita naik terus, merambat terus," katanya.
Kenaikan produksi minyak, kata dia, karena sejumlah lapangan yang sudah selesai dalam masa pemeliharaan (maintenance). Kenaikan produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari, dibandingkan dengan Desember-Januari sebesar 950 barel per hari.
Kardaya mengatakan, pihaknya mengharapkan kenaikan produksi sekitar 1,050 juta barel per hari. Hitungan itu pembahasan WP&B 2008 dengan operator. "Hasilnya kami pegang betul karena angka dari mereka," katanya.
Sebelumnya pemerintah mengubah target produksi minyak nasional dari 1,03 juta barel menjadi 910 ribu barel per hari. Asumsi harga minyak dari US$ 60 menjadi US$ 80.
Deputi Operasional BP Migas, Doddy Hidayat mengatakan, beberapa lapangan yang menyumbangkan kenaikan produksi minyak antara lain Lapangan Belida, Belanak dan Kerisi yang total produksinya 60 ribu barel per hari.
Kepala Divisi Operasi Finansial BP Migas Sudjarjono mengatakan peningkatan cost recovery akibat kenaikan harga minyak. Dia menjelaskan, bila dibanding dengan tahun 2006 dan 2007 biaya pengangakatan minyak dari tahun ke tahun juga meningkat. Pada 2004 sebesar US$ 11,10 per barel, 2005 sebesar US$ 11,54 per barel, 2006 US$ 12,3 per barel dan 2007 US$ 14 per barel. Dia menambahkan, rata-rata harga minyak US$ 71-72 per barel.
NIEKE INDRIETTA | ALI NY





