Spekulan Minyak Sawit Cegah Harga US$ 1.100

Selasa, 05 Februari 2008 | 19:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Spekulan yang biasa menjadi pemain besar dalam transaksi perdagangan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan mencegah harga menyentuh US$ 1.100 per ton. Alasannya, apabila harga melewati US$ 1.100 per ton maka pemerintah akan menaikan pungutan ekspor sampai 15 persen. "Para spekulan tak mau hanya menguntungkan pemerintah yang menarik pungutan ekspor tinggi," kata Ketua Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, Selasa (5/2).

Pemerintah akan menaikan pungutan ekspor CPO secara progresif. Jika harga menyentuh US$ 1.100 per ton pungutan ekspor menjadi 15 persen, harga US$ 1.200 menjadi US$ 20 persen dan 25 persen bila harga US$ 1.300.

Dia mengatakan, kencenderungan harga CPO di bawah US$ 1.000 per ton. "Para spekulan juga memperhatikan kemampuan daya beli masyarakat dunia," tuturnya. Sinaga menilai, kebijakan pungutan ekspor yang progresif ini bertujuan menjaga perubahan harga yang tiba-tiba.

Menurut Sinaga, kebijakan penurunan pungutan ekspor untuk produk hilir, dinilai tak efektif. "Ini tak jauh berbeda, hanya ada sedikit perbedaan," ujarnya. Selain itu, insentif untruk biodiesel dinilai tak diperlukan, karena pasar Uni Eropa yang menghalangi masuknya produk CPO dari Indonesia, membuat industri biodiesel dalam negeri terpaksa menghentikan produksi.

YULIAWATI

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :