BI: Kinerja Perbankan Makin Membaik di 2007
Kamis, 07 Februari 2008 | 19:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia menilai, kinerja perbankan di tahun 2007 makin membaik. Hal itu, kata Deputi Gubernur BI Budi Mulya, terlihat dari berbagai indikatornya.
"Hal yang menggembirakan kami lihat di industri perbankan (tahun 2007)," kata Budi di Jakarta, Rabu (6/2).
Aset perbankan nasional pada posisi Desember 2007 mencapai Rp 1.986,5 triliun atau naik 17,3 persen year on year. Sementara itu sampai akhir tahun nilai kredit mencapai Rp 1.045,7 triliun.
Pada Desember 2007, kredit tumbuh Rp 41,05 triliun sehingga di 2007 kredit tumbuh sebesar 25,5 persen year on year atau jauh melampaui target pertumbuhan sebesar 22 persen. Sementara pertumbuhan kredit mikro kecil dan menengah sebesar 22,5 persen melampaui targetnya 20 persen.
Selain itu, Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan juga meningkat mencapai 69,2 persen. Meskipun LDR tinggi, menurut Budi, ternyata tingkat pengelolaan risiko kredit oleh perbankan nasional juga makin membaik. Itu tercermin dari kualitas kredit macet (Non Performing Loan/NPL) yang terus menurun. "Gross NPL turun menjadi di bawah 5 persen," ujarnya. Tepatnya, dari 6,98 persen menjadi 4,64 persen year on year sementara NPL netto turun dari 3,63 persen menjadi 1,94 persen year on year.
Hal lain yang juga menggembirakan, tambah Budi, tingkat efisiensi industri perbankan juga meningkat. Hal itu, bisa dilihat dari ukuran BOPO yang saat ini sudah berada di bawah 80 persen. "Ini suatu kenaikan efisiensi yang signifikan pada industri perbankan," kata Budi.
BI, imbuhnya, berharap efisiensi perbankan ini bisa berlanjut seterusnya sehingga industri perbankan nasional tidak hanya kuat implementasi manajemen risiko tetapi juga sebagai industri yang efisien. "Yang pada gilirannya dapat membuat suku bunga kredit semakin rendah," kata dia.
BI melihat beberapa bank sudah berani menurunkan suku bunga kreditnya. Meskipun belum menyeluruh kepada seluruh industri perbankan, kata Budi, hal itu adalah suatu kemajuan yang menggembirakan. "Sebab sekali bergulir efisiensi di industri, isu kompetisi sehat akan bergulir dan benefit bagi debitor karena tidak harus membayar lending rate yang tinggi," kata dia.
l AGUS SUPRIYANTO
Topik :




Komentar Anda :