PT KAI Sukses Operasi Penumpang Liar

Rabu, 13 Februari 2008 | 23:52 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:
Operasi penertiban terhadap penupang liar yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sejak Selasa kemarin menuai sukses besar. “Hari ini penumpang 100 persen bertiket. Ini keberhasilan yang luar biasa” kata Direktur Utama PT. KAI Ronny Wahyudi di ruang kerjanya di Bandung, Rabu (13/2).

Operasi ini ditujukan terutama terhadap para penumpang yang bergelantungan atau yang duduk di atap kereta dan penumpang tanpa karcis. Untuk penumpang yang berada di luar gerbong, operasi yang dilaksanakan cukup unik, yakni dengan menyemprot mereka dengan air yang dicampur dengan pewarna.

Rony menjelaskan, hari pertama operasi ini dijalankan pada hari Selasa, ada 30 penumpang dari stasiun Bogor yang kena semprot. Mereka adalah pelajar, buruh, karyawan dan ibu rumah tangga.

Sedangkan penumpang tanpa tiket yang berhasil dijaring dari stasiun Manggarai sebanyak 157 orang dan dari Serpong sebanyak 130 orang. Mereka langsung diturunkan untuk membeli tiket atau didenda bayar 2 kali lipat.

Hari kedua, laporan yang diterima Ronny sangat mengejutkan. Petugas operasi hanya mendapati pelanggaran penumpang yang naik di atap, di lokomotif dan di sambungan. Itu pun hanya didapat di KRL Manggarai – Bogor, dan jumlahnya hanya 36 pelanggar. Sedangkan penumpang tanpa tiket tidak ada lagi.

Ronny menyangkal banyaknya penumpang di luar gerbong akibat kapasitas gerbong yang tidak mampu menampung jumlah penumpang. Sebab, menurut dia, sejak beberapa bulan lalu semua rangkaian kereta api sudah ditambah gerbongnya dari 4 menjadi 8.

Harga tiket pun murah, karena rute Jabotabek itu termasuk kelas ekonomi yang disubsidi pemerintah, sehingga harga tiket yang seharusnya Rp 7.000,- kini hanya dikenakan Rp 2.500 per penumpang. “Sisanya jadi beban pemerintah” jelasnya.

Namun, dia tak menampik lolosnya ratusan penumpang tanpa tiket akibat kolusi dengan petugas PT. KAI (masinis atau kondektur) sendiri. Dan diakuinya, kepada mereka selama ini tidak ada sanksi apa pun yang dikenakan. Ini akibat dari kurangnya jumlah petugas yang dimiliki PT KAI.

Pengenaan sanksi baru mulai diterapkan tahun ini. Ia mencontohkan, sedikitnya lima orang masinis dan kondektur yang kini di grounded untuk jangka waktu 3 bulan. Semuanya merupakan petugas di rute Jabotabek, yang memang rawan pelanggaran.

Penumpang jalur Jabotabek pada tahun 2007 tercatat 118 juta penumpang. Menurut Ronny, sekitar 30 persen atau kurang lebih 40 juta penumpang di antaranya tidak bertiket. Jika rata-rata harga tiket Rp 2.500,- maka PT KAI menangguk kerugian sekitar Rp 100 miliar pada tahun itu.

Penumpang liar di luar gerbong dan tanpa tiket itu bukan saja merugikan PT KAI secara finansial, namun juga beresiko tinggi terhadap kecelakaan. Tahun 2007, misalnya, tercatat kecelakaan penumpang yang jatuh dari kereta sebanyak 107 penumpang, 10 orang diantaranya tewas dan 97 lainnya luka parah. Ada juga 31 penumpang yang terbentur jembatan, dengan korban tewas 10 orang.
Rinny Srihartini

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: