Laba Bersih BII Anjlok
Kamis, 14 Februari 2008 | 20:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Laba bersih PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) pada 2007 turun sebesar 36 persen menjadi Rp 405 miliar dibanding pada 2006 sebesar Rp 634 miliar. Penurunan laba itu dipengaruhi kerugian WOM Finance akibat naiknya biaya provisi untuk kredit bermasalah (NPL) pada anak perusahaan itu.
Presiden Direktur BII Henry Ho menyebut selain karena kerugian WOM Finance, penurunan laba bersih itu juga terjadi karena adanya pelemahan pendapatan bunga bersih sebesar empat persen menjadi Rp 2,526 triliun dibanding 2006 sebesar Rp 2,628 triliun. Sementara itu, pendapatan operasional naik 22 persen menjadi Rp 1,269 triliun dibanding tahun lalu sebesar Rp 1,041 triliun.
Menurut Henry, biaya provisi yang akan dibentuk selama kuartal keempat di WOM Finance bertujuan untuk memenuhi peraturan dan ketentuan Bank Indonesia. Langkah itu akan memperkuat neraca WOM untuk tumbuh lebih kuat pada 2008.
"WOM mengumumkan kerugian Rp 241 miliar dengan biaya provisi sebesar Rp 712 miliar," kata Henry, dalam siaran persnya, Kamis (14/2) malam. Dia melanjutkan, bisnis inti WOM terus berjalan baik dengan pangsa pasar sekitar sepuluh persen. Lembaga ini mencatat penjualan sebanyak 476 ribu unit selama 2007 lebih tinggi bila dibandingkan pada 2006 sebanyak 401 ribu unit. Pembiayaan bersih juga tumbuh menjadi Rp 4,825 triliun dibanding tahun lalu sebesar Rp 3,979 triliun.
Menurut Henry, bisnis inti BII tetap kuat dengan pertumbuhan kredit sebesar 26 persen menjadi Rp 33,056 triliun pada 2007 dibanding 2006 sebesar Rp 26,263 triliun. Sementara itu, jumlah simpanan nasabah relatif tidak berubah sesuai dengan ekspektasi sebesar Rp 36,971 triliun sedikit lebih rendah dibanding 2006 sebesar Rp 37,117 triliun.
Ia mengakui bahwa pendapatan bunga bersih relatif lebih rendah menjadi Rp 2,526 triliun. Hal itu terjadi karena ketatnya persaingan di industri perbankan, spread yang lebih kecil, dan pemenuhan ketentuan Bank Indonesia yang berkaitan dengan konsolidasi manajemen risiko dengan WOM.
Eko Nopiansyah





