Pemerintah Mempertanyakan Demonstrasi Pedagang Daging
Jum'at, 22 Februari 2008 | 17:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mempertanyakan demonstrasi yang dilakukan pedagang daging beberapa hari lalu. Begitu juga terhadap hilangnya stok daging di beberapa pasar.
"Harga daging yang skarang jika dibandingkan Oktober 2007 lalu masih lebih rendah. Kenapa dulu tidak demo? Dan kenapa yang demo bukan konsumen, tapi malah pedagang? Saya juga bingung, apa karena ikut-ikutan demo kedelai?" ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman, Jumat (22/2) di Jakarta.
Hal ini menanggapi hilangnya stok daging sapi maupun impor di beberapa pasar karena harga dari distributor saat ini sangat tinggi. Pada hari Rabu lalu, Asosiasi
Pedagang Daging se-Jabotabek berunjuk rasa di Istana Negara dan Balaikota Jakarta mengeluhkan terus naiknya harga sejak Lebaran tahun lalu.
Lebih jauh, Ardiansyah mengungkapkan, pemerintah tidak punya isntrumen untuk stabilisasi harga daging. Pasalnya, sudah lama kondisi defisit daging di negeri ini.
Dengan produksi dan konsumsi daging per tahun masing-masing sebesar 500 ribu ton, kata dia, masih diperlukan 350 ribu ekor sapi untuk bisa penuhi seluruh kebutuhan nasional. Adapun tiap tahunnya Indonesia mengimpor 20 ribu ton daging beku dan 34-35
ribu ton jeroan.
Ia juga menilai, swasembada daging belum tentu akan menurunkan harga di pasar lokal. Sama halnya dengan minyak goreng, menurut Ardiansyah, swasembada tidak tidak membuat harga rendah. "Kalau harga dunianya lagi tinggi, harga di dalamnegeri tidak mungkin rendah. Walau begitu, swasembada penting supaya tidak tergantung pada pihak luar," tukasnya.
RR ARIYANI





