BI-Pemerintah Antisipasi Krisis

Jum'at, 22 Februari 2008 | 19:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia dan pemerintah semakin mengintensifkan koordinasi menghadapi kondisi perekonomian dunia yang bergejolak dan menunjukkan tanda-tanda resesi. "Melihat situasi sekarang ini kami perlu lebih erat lagi berhubungan dengan BI karena perkembangan di luar negeri perlu diwaspadai," kata Menteri Koordinator Perekonomian Boediono seusai menghadiri rapat koordinasi antara Pemerintah-BI di Jakarta, Jumat (22/1).

Hadir dalam rapat koordinasi itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Badan Pengawasan Pasar Modal Fuad Rahmany, Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom, dan Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono.

Menurut Boediono, pertemuan dengan BI ini rutin diadakan setiap bulan. Secara khusus, pemerintah dan bank sentral mengevaluasi kondisi makro ekonomi nasional. "Kami cek perkembangan terakhir aspek moneter dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Boediono.

Dalam masalah fiskal, kata dia, tingginya harga minyak dunia saat ini memaksa pemerintah merevisi APBN. Dan yang tak kalah penting soal dampak krisis global akibat krisis kredit macet perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat. "Masalah subprime itu ekornya makin tidak menentu," kata Boediono.

Di sisi moneter, dia melanjutkan, merujuk pada penjelasan BI, kondisi moneter masih cukup stabil dan terkendali. Tingkat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, tingkat bunga, dan aliran keluar-masuk dana asing tidak membuat pemerintah dan BI panik (nervous). "Untuk indiktor moneter BI pada posisi OK," kata dia. Saat ini, rupiah masih stabil di posisi 9.167 per dolar AS. Adapun tingkat patokan bunga (BI Rate) relatif rendah di level 8,0 persen.

Miranda menambahkan, BI dan bank sentral juga sedang mengkaji potensi pertumbuhan ekonomi 2008 agar tetap tumbuh tanpa mengorbankan kestabilan jangka panjang. Saat inibanyak variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang harus disepakati pemecahannya, seperti inflasi, perkembangan kurs, dan dampak subprime mortgage. "Minggu ke dua maret akan dibicarakan lebih jauh dengan melakukan exercise," ujarnya.

AGUS SUPRIYANTO | EKO NOPIANSYAH






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: