Industri Hilir kelapa Sawit Harus Diperkuat

Senin, 25 Februari 2008 | 18:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta
Menurut Akmaludin, sebagian besar produk crude palm oil (CPO) masih diekspor. Ekspor tersebut menguntungkan negara yang memiliki industri pengolahan kelapa sawit namun kekurangan bahan baku. "Seperti Cina dan Jepang. Mereka tidak punya bahan baku tidak masalah, karena industri hilirnya kuat," katanya.

Dia membandingkan dengan Malaysia yang mengekspor CPO hanya 20 persen dari total produksinya. "Yang 80 persen lagi sudah dalam bentuk olahan turunan CPO," ujarnya.

Pada 2007, menurut Akmaludin, nilai ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia sekitar US$ 10,7 miliar sementara Malaysia sekitar US$ 14,4 miliar. "Produksi CPO mereka memang lebih sedikit, tapi industri hilirnya lebih banyak sehingga nilainya lebih tinggi," ungkapnya.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan Indonesia akan diarahkan ke industri hilir kelapa sawit yang memang memiliki nilai tambah lebih besar. Menurut dia, Indonesia adalah produsen CPO terbesar di dunia dengan luas perkebunan kelapa sawit mencapai 6 juta hektar.

Produksi CPO Indonesia pada 2007 mencapai 17,2 juta ton. "Namun pembangunan agribisnis kelapa sawit jangan hanya berorientasi pada kapasitas produksi, tapi juga menjamin kelestarian lingkungan," ujar Anton.

GABRIEL WAHYU TITIYOGA

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :