Menteri Perumahan Bersikukuh Tolak Akuisisi BTN
Senin, 25 Februari 2008 | 18:57 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf Asy'ari bersikukuh menolak rencana Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil mengakuisisi Bank Tabungan Negara. Dia beralasan, BTN memiliki prestasi signifikan dalam penyaluran pembiayaan perumahan.
Yusuf menuturkan, perbedaan pendapat antara dirinya dan Sofyan disebabkan perbedaan aspek teknis. "Saya ingin BTN menunjang kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah, sedangkan BUMN ingin profit dan segala macam," kata dia, di gedung DPR, Jakarta, Senin (25/2).
Untuk program on mission seperti pembiayaan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah, kata Yusuf, seharusnya kementerian BUMN tak memberikan target profit.
Dalam rapat itu Sofyan mengungkapkan bahwa Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, dan Bank Mandiri telah mengajukan proposal akuisisi BTN. Di rapat, Sofyan kerap mengandaikan akuisisi dilakukan oleh BRI.
Menurut Yusuf, keputusan akuisisi BTN oleh BRI tak akan membuat bank pembiayaan perumahan itu lebih baik dengan IPO. Dia menerangkan, BRI meminta margin penyaluran KPR kepada kementeriannya sebesar 7 persen. Sedangkan BTN hanya 4 persen. "Angka ini tinggi sekali, apa jadinya kalau BRI jadi induk? Cilaka saya," kata dia.
Dia melanjutkan bahwa BRI mendapatkan pembiayaan dari Simpanan Pedesaan (Simpedes) yang berbunga tinggi. Dengan tingginya landing rate kredit, kata Yusuf, misi BTN untuk merendahkan KPR murah bertabrakan dengan kondisi BRI. Sebab bunga KPR harus lebih rendah dari kredit mikro BRI yang berkisar 24-30 persen.
Deputi Gubernur BI Siti Fajriah sependapat dengan Yusuf. Bunga KPR, kata dia, harusnya bunga murah dan tak tepat dibiayai bunga komersial. "Harus ada pendanaan lain untuk menurunkan landing rate," kata dia dalam acara yang sama. Caranya, "subsidi dari pusat atau daerah."
RIEKA RAHADIANA





