|
Harga Minyak Tembus US$ 103 per Barel
Sabtu, 01 Maret 2008 | 01:36 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga minyak dunia pada perdagangan Jumat (29/2) mencetak harga tertinggi sebesar US$ 103,05 per barel. Lonjakan harga minyak tersebut memicu kenaikan haga emas menjadi US$ 976,32 per ounce seperti dikutip AFP.
Seteleh sempat menyentuh posisi US$ 103,05 per barel harga minyak mentah di bursa New York untuk pengapalan April mendatang berada di level US$ 101,96. Sedangkan harga minyak jenis Brent North Sea untuk pengiriman dua bulan ke depan diperdagangkan pada harga US$ 100,30 per barel setelah sempat menyentuh US$ 101,27 sehari sebelumnya.
Kalangan analis perminyakan menyatakan, kenaikan harga minyak dipicu masalah geopolitik dan rencana pemotongan produksi Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada bulan depan. Selain itu, kekhawatiran melemahnya perekonomian Amerika dan tingginya permintaan energi dunia menjadi penyebab meroketnya harga minyak kali ini. OPEC akan melakukan pertemuan di Vina pada 5 Maret mendatang.
Menteri Perminyakan Libya Chukri Ghanem mengatakan, OPEC kemungkinan tak akan melakukan upaya untuk meredam harga minyak yang sudah menyentuh US$ 100 per barel. Menurut dia, negara anggota kartel minyak tersebut tak akan menaikan produksi minyaknya.
Pemerintah Jepang mendorong OPEC segera menambah produksi minyaknya. "Tingginya harga minyak mentah secara gradual merusak ekonomi global," kata Menteri Ekonomi, Industri dan Perdagangan Jepang Akaira Amari. Menurut dia, kenaikan ini bisa menghancurkan perekonomian negara penghasil minyak.
Pengamat perminyakan Kurtubi kepada Tempo mengatakan, untuk mengamankan anggaran negara, pemerintah segera konsentrasi menaikan produksi minyak. Menurut dia, hambatan dalam pengembangan industri minyak di Tanah Air harus segera dihilangkan. "Selain itu percepat konversi energi dari minyak tanah ke gas elpiji dan bahan bakar minyak ke bahan bakar gas," ujarnya.
Cara lain untuk mengamankan anggaran pemerintah, kata Kurtubi, dengan menaikan pajak dari keuntungan mendadak (windfall profit kenaikan harga minyak. "Cara ini bisa diterapkan kepada perusahaan kontraktor bagi hasil yang mendapatkan keuntungan dari minyak," katanya.
Langkah terakhir, menurut dia, jika semua cara sudah dilakukan namun beban anggaran masih tinggi adalah dengan menaikan harga bahan bakar minyak. "Jangan banyak-banyak cukup Rp 500 per liter," ujarnya. Kenaikan sebesar itu bisa menghemat anggaran sekitar Rp 20 triliun.
Sementara itu seorang analis regional mengatakan, harga minyak diperkirakan masih akan naik hingga ke level US$ 115 per barel. Dia memperkirakan, harga minyak yang sudah menyentuh US$ 100 akan sulit turun. "Negara-negara OPEC tidak akan menambah produksi minyak karena mereka menikmati harga tinggi," katanya.
ALI NUR YASIN | DIAN YULIASTUTI | MARDIYAH CHAMIM
INDEKS BERITA LAINNYA :
|