Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Bank Harus Mengubah Orientasi Pencarian Laba
Selasa, 04 Maret 2008 | 16:29 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Perbankan nasional harus mengubah orientasi perolehan laba dari interest margin atau memperoleh laba tinggi dari selisih bunga ke fee based margin. Tujuannya untuk mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan memberikan bunga kredit rendah.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Tony Prasentiantono mengatakan orientasi perolehan laba itu menyebabkan tingkat suku bunga perbankan sulit turun.
Padahal rasio pinjaman perbankan (loan to deposit ratio) yang saat ini masih relatif rendah yaitu sekitar 66 persen. "Sebab banyak dana bank yang menganggur tidak tersalurkan," kata Tony di dalam diskusi moneter di MU Cafe Jakarta.

Penyebabnya, lanjut dia, selain masalah memburuknya perekonomian global, masalah lain yang cukup berpengaruh adalah tingginya tingkat suku bunga pinjaman bank.
Padahal dalam beberapa tahun terakhir suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) terus menurun, dari 12,7 persen pada awal 2006 menjadi 8 persen pada akhir 2007.

"Bank harus mendorong likuiditas yang berlebih tersalurkan, bank juga perlu menurunkan tingkat suku bunga," ujarnya.

Menurut dia, tingginya bunga bank juga berdampak pada kecenderungan pihak swasta memilih mencari tambahan dana melalui pasar modal dengan menerbitkan obligasi karena
bunganya lebih rendah.

Perubahan orientasi itu, kata dia, memang memerlukan waktu mengingat perbankan masih mengandalkan keuntungan dari bunga. Selain itu kultur masyarakat belum siap apabila transaksi keuangannya dikenai biaya. "Mungkin lima tahunan lagi kita baru bisa," ujarnya.

Tony melanjutkan bahwa keadaan ini merupakan tantangan bagi bank untuk menjalankan fungsi intermediasinya. "Kedepan arahnya perbankan mengandalkan laba dari fee
based," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah mengemukakan bahwa pinjaman perbankan yang belum ditarik pada 2007 lalu
sebesar 20 persen dari total komitmen kredit yang mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun dimana sebagian besar kredit itu merupakan kredit modal kerja.

Penyebabnya selain kondisi perekonomian juga banyaknya korporasi yang mencari pendanaan melalui pasar modal. "Ada pengaruh penerbitan obligasi oleh korporasi
dengan penyerapan kredit bank," ujarnya.

Eko Nopiansyah


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Bank UMK Masih Dibahas Pemerintah
ICBC dan CCB Ingin Akuisisi BII
Pemerintah Buka Peluang Bank BUMN Membeli BII
Bank Mandiri Dapat Pinjaman US$ 300 Juta
Menteri BUMN Kantongi Tiga Nama Pengganti Agus Martowardojo
BNI Targetkan Penjualan ORI004 Rp 1 Triliun
Mandiri Ganti Kartu Kredit
BNI Alokasikan Rp 137 Miliar Untuk PKBL
Menkeu : LPEI Tidak Akan Menjadi Lembaga Super
Bahana Terbitkan Reksa Dana Khusus BUMN
> selengkapnya...

Referensi

Awal Sengketa
Aliran Dana Bank Sentral ke DPR

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk118541 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data