Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pemerintah Evaluasi Kenaikan Harga Rumah Sederhana
Kamis, 06 Maret 2008 | 01:33 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah sedang mengevaluasi kenaikan harga jual rumah sederhana sehat yang diusulkan oleh asosiasi pengembang perumahan. Besaran kenaikan harga rumah yang masih disubsidi negara ini akan diumumkan pada hari ulang tahun Real Estate Indonesia pada 14 Maret mendatang.

Menurut Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf Asy'ari, tim kecil yang dibentuk oleh Kementerian Perumahan Rakyat sedang mengkaji tiga opsi kenaikan harga jual rumah bagi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah ini. "Naik sedikit, naik sedang, dan naik tinggi," katanya kepada wartawan di sela-sela kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Bogor, kemarin.

Dia memerinci kenaikan harga jual rumah sedikit berkisar 5 persen. Adapun kenaikan sedang 8-10 persen, dan tinggi di atas 10 persen. “Itu masih dievaluasi,” ujarnya.

Pekan lalu Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) telah mengajukan usulan agar Kementerian Negara Perumahan menaikkan harga rumah sederhana tipe 36 dari Rp 49 juta menjadi Rp 54-55 juta. Adapun Real Estate Indonesia (REI) mengusulkan kenaikan harga maksimal menjadi Rp 60 juta. Asosiasi perumahan tersebut juga meminta pemerintah membedakan besaran kenaikan berdasarkan zonasi, terutama di Papua dan Bali, karena mahalnya tanah dan bahan baku. Di kedua pulau itu, REI mengusulkan harga rumah maksimal menjadi Rp 75 juta.

Selain opsi kenaikan, Yusuf melanjutkan, tim juga sedang mengevaluasi dampak kenaikan harga dan besaran subsidi yang masih harus diberikan. “Apa akibat jika harga rumah dinaikan atau tak naik,” paparnya.

Dalam kondisi perekonomian yang belum kondusif ini, dia berharap pengembang tak mengambil keuntungan besar dari kenaikan harga jual rumah itu. Sebab harga jual rumah berhubungan erat dengan besaran subsidi yang diberikan oleh pemerintah. “Setiap kenaikan harga rumah sederhana harus diimbangi dengan kenaikan subsidi,” ujarnya.

Pada tahun ini pemerintah menargetkan pembangunan rumah sederhana sebanyak 270 ribu unit. Sebanyak 150 ribu unit rumah sederhana sehat akan mendapatkan subsidi sebesar Rp 800 miliar. Masyarakat mendapatkan subsidi uang muka dan bunga—setara uang muka-- berkisar Rp 7,5-12,5 juta per unit rumah.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI Teguh Satria mengatakan, kenaikan harga rumah sederhana sehat tak bisa dihindari lagi karena harga bahan-bahan bangunan sudah naik sejak tahun lalu. Harga jual rumah juga perlu dinaikan untuk menjamin pasokan rumah sederhana sehat yang ditargetkan pemerintah. Pengembang, katanya, tak akan bisa membangun rumah sederhana jika harga jual rumah tak naik. "Mei sampai Juli akan terjadi kekosongan jika (harga) tak naik," ujarnya kepada Tempo di Jakarta.

Anggota Komisi Infrastruktur Dewan Perwakilan Rakyat Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah sebaiknya mengundang semua pihak terkait (stakeholder) sebelum mengambil keputusan menaikkan atau mempertahankan harga jual rumah sederhana. Sebab masalah perumahan bisa menimbulkan dilema bagi pengembang dan masyarakat. "Jika tak dinaikkan, sedangkan harga bahan bangunan naik, pasokan rumah akan terganggu," kata dia kepada Tempo secara terpisah. Namun, masyarakat juga bisa terpukul jika harga jual dinaikkan.

Dia berpendapat, kebijakan harga jual rumah sederhana harus "satu paket". Kenaikan harga harus disertai penambahan kredit pemilikan rumah (KPR) dan subsidi kepada konsumen. "Idealnya, subsidi juga naik agar masyarakat juga bisa menjangkaunya,” ujar politikus Partai Golkar ini.

Padjar Iswara | RIEKA RAHADIANA

Dari Arsip Majalah TEMPO
Ada RIA, Ada Risha, Semua untuk Aceh | 14 Maret 2005
Bisnis Sepekan | 14 Maret 2005
Titik Terang di Seratus Hari | 20 Desember 2004
Kocek Dulu Baru Lokasi  | 20 April 1999
Setelah Mereka Berlayar di Daratan  | 03 November 2003
Bisnis Sepekan | 26 April 2004
Rumah Rp 20 miliar untuk Megawati | 04 Oktober 2004
Kecewa terhadap Pengembang  | 14 Juli 2003
Untuk Dirjen Anggaran  | 02 Juni 2003
Membuang Situ, Mendulang Banjir | 20 September 2004
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Lahan Pertanian di Blitar Termakan Real Estate
Pasokan Listrik Untuk RSH Makin Sulit
Presiden Resmikan 100 Ribu Rumah Sederhana Sehat
1.639 Rumah di Depok Tidak Layak Huni
7,5 Persen Rumah Berada di Daerah Rawan Bencana
Lima Warga Tertimbun Rumah Ambruk
Solo Butuh 2.650 Rumah Setiap Tahun
Presiden : Kami Membangun Tanpa Menggusur
Pengembang Keluhkan Kelangkaan Kayu
Perumnas Minta Pemerintah Tutup Kerugian
> selengkapnya...

Referensi

PENJELASAN KHUSUS SEKTOR PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk118697 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Sophan Meninggal Dalam Perjalanan Ke Rumah Sakit
Sophan Sophian Ingin Jadi Duta Besar
Keluarga Sudah Menerima Kabar Sophan Sophian Meninggal
Soetrisno Bachir Keliling Jawa Tengah
Keluarga Masih Menunggu Kabar Meninggalnya Sophan Sophian

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data