Asumsi APBN-P 2008 Dinilai Tak Realistis

Sabtu, 08 Maret 2008 | 08:08 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ekonom Iman Sugema menilai asumsi makro yang sudah disepakati Panitia Anggaran DPR dan pemerintah dalam APBN perubahan 2008 tidak realistis. "Masih terlalu tinggi," katanya menjawab pertanyaan Tempo di Jakarta.

Panitia Kerja Asumsi Makro Panitia ANggaran DPR dan pemerintah telah sepeakt menetepkan asumsi makro APBN P 2008. Asumsinya adalah pertumbuhan ekonomi 6,4 persen, inflasi 6,5 persen, SBI 3 bulan 7,5 - 8 persen dan nilai tukar rupiah rata-rata Rp 9.100.

Iman melihat asumsi pertumbuhan ekonomi berada pada level 6 persen. Asumsi sederhananya karena setiap satu persen penurunan pertumbuhan ekonomi di AS akan berpengaruh sekitar 0,4 persen penurunan di Indonesia. "Jadi kalau AS turun 2 persen beratti penurunannya 0,8 persen. Harusnya kita juga turun dari 6,8 jadi 6 persen," katanya.

Inflasi sebesar 6,5 persen, kata Iman, juga sulit untuk dicapai. "Sulit untuk mengharapkan bisa 6,5 persen mungkin plus satu lebih realistis," kata Iman. Sehingga dia memprediksi inflasi akhir tahun ini berada pada rangenya 6,5 - 7,5 persen dengan kecenderungan berada diatas 7 persen. Alasanya, harga bahan makanan diprediksi akan sulit turun akibat melonjaknya permintaan dunia.

Sementara SBI dan nilai tukar, menurut ekonom dari Intercafe IPB itu, sulit untuk diprediksi karena tergantung pada capital in dan out flow. "Clakanya dalam situasi krisis lebih susah lagi," katanya.

Jadi, Iman berpendapat range nilai tukar rupiah harus diperlebar. Sarannya pada level Rp 8900 - 9900. Indonesia, menurutnya sulit diprediksi karena capital inflow nya sangat liquid sehingga sangat tergantung pada investor.

Gunanto E S

TOPIK






Komentar Anda

Kirim