Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Harga Minyak Mentah Bisa Tembus US$ 130
Minggu, 09 Maret 2008 | 09:53 WIB

TEMPO Interaktif, London:Harga minyak mentah diprediksi dapat menembus rekor baru US$ 130 per barel tahun ini. Hal ini bisa terjadi karena banyak dana keuangan yang diinvestasikan di komoditi ditambah lagi perlambatan ekonomi Amerika Serikat 0,6 persen di kuartal keempat tahun lalu.

Parahnya pasar perumahan di negara itu yang diikuti kerugian di perbankan akhirnya mendorong para investor untuk membeli minyak--yang nilainya lebih baik ketimbang dolar.

"Prospek minyak mentah hingga lima tahun ke depan sangat baik, produsen akan sulit meningkatkan cadangan minyak dan permintaan akan terus meningkat," ujar Pierre Andurand, Kepala investment officer di perusahaan keuangan BlueGold Capital Management, Sabtu (9/3) waktu setempat.

Dengan minyak mentah yang diperdagangkan di atas US$ 100 per barel, kompetisi di antara produsen makin ketat. Tahun depan, ia memprediksi, harga minyak mentah bisa terus naik hingga US$ 150 per barel.

Seperti diketahui, harga minyak mentah untuk penjualan berjangka selama pekan lalu menyentuh rekor baru US$ 106,54 per barel. Nilai ini naik 3,8 persen selama seminggu di New York Merchantile Exchange, dari US$ 102,59 per barel sebelumnya.

Di saat yang sama minyak jenis Brent untuk pengiriman April turun 32 sen hingga mendekati US$ 102,38 per barel di London ICE Future Europe Exchange setelah sebelumnya menembus rekor US$ 103,98 per barel di hari Jumat.

Melemahnya Dollar terhadap Euro disebut sebagai alasan mengapa investasi sekarang bergerak ke sektor komoditi. Banyak investor juga percaya nilai Dollar akan terus anjlok seiring rencana Bank Sentral The Fed menurunkan suku bunga.

Sementara itu, Direktur Hubungan Internasional Perusahaan Nasional Minyak Iran, Ghanimifard memprediksi harga minyak mentah bakal turun. "Seiring pemilihan presiden Amerika Serikat dan fakta negara itu adalah konsumen terbesar untuk produk minyak, harga minyak akan turun di musim panas ini," ujarnya di Teheran.

Pemerintah Amerika Serikat pada hari Rabu lalu menyatakan kecewa bahwa OPEC sepakat untuk tetap mempertahankan produksi kendati harga minyak mentah terus menembus rekor baru. Pemerintah menyatakan kenaikan harga minyak mentah lebih karena pengetatan suplai dari para produsen, sedangkan menteri-menteri yang tergabung dalam OPEC menuding hal itu karena ulah spekulan pasar.


THE ECONOMIC TIMES | BLOOMBERG | REUTERS VIA YAHOO | RR ARIYANI


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk118855 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

DKI Sisir Kawasan Radio Dalam
Rumah Duka Sophan Sophian Dikerumuni Wartawan
Menabrak Pakem Seni Trimatra
Sophan Meninggal Dalam Perjalanan Ke Rumah Sakit
Sophan Sophian Ingin Jadi Duta Besar

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data