|
Rencana Kerja PLN Direvisi
Selasa, 11 Maret 2008 | 03:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Manajemen baru PT PLN (Persero) akan merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2008. Revisi terkait besaran subsidi, asumsi harga minyak dan nilai tukar rupiah. Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar mengatakan, asumsi-asumsi tersebut saat ini sudah mengalami perubahan dari yang ditetapkan sebelumnya.
Akibat lonjakan harga minyak subsidi listrik mendekati Rp 60 dari yang ditetapkan pemerintah Rp 55 triliun. Asumsi harga minyak menjadi US$ 83 dari US$ 80 per barel. Konsumsi bahan bakar minyak juga membengkak menjadi 10 juta kiloliter dari 9,1 juta kiloliter.
Menurut Fahmi, selain melakukan revisi terhadap beberapa asumsi RKAP, PLN akan tetap menerapkan tarif insentif dan disinsentif. “Kebijakan tarif insentif dan disinsentif akan kami bicarakan dengan DPR,” katanya setelah pelantikan dirinya sebagai direktur utama, Senin (10/3).
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil kemarin mengganti susunan dan organisasi direksi PLN. Susunan direksi PLN terdiri direktur utama, wakil direktur utama, direktur konstruksi strategis, direktur perencanaan dan teknologi, direktur Jawa-Madura-Bali, direktur luar Jawa-Madura-Bali, direktur sumber daya manusia dan direktur keuangan.
Langkah lain, kata dia, pihaknya akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak dengan mempercepat pembangunan proyek 10.000 megawatt (MW). Selain itu, PLN juga akan mempercepat masuknya gas ke sejumlah pembangkit, pengalihan solar ke minyak bakar dan mengoptimalkan pembangkit listrik nonminyak.
Menurut Fahmi, pihaknya akan segera melakukan perubahan organisasi baru deputi direkstur atau satu tingkat dibawah direksi. "Kami masih mengkaji, kami upayakan dalam bulan ini selesai," ujarnya.
Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Jack Purwmono mengatakan, perubahan direksi tidak akan mempengaruhi kebijakan listrik insentif dan disinsentif. "Rencana tersebut tetap jalan," katanya.
Sofyan Djalil mengatakan, perubahan organisasi direksi berdasarkan regional untuk pengembangan tarif berdasarkan wilayah. Menurut dia, beberapa wilayah seperti Batam dan Tarakan sudah memberlakukan tariff regional. "Jika listrik bagus, wajar orang bayar lebih mahal. Kalau dekat dengan energi, wajar bayar murah," ujarnya.
Sofyan meminta masalah energi primer dan pembangunan pembangkit 10.000 megawatt menjadi perhatian PLN. "Kami membentuk direktur pembangunan strategis agar ada orang yang mensupervisi sehari-hari," katanya.
ALI NUR YASIN | NIEKE INDRIETTA | SORTA TOBING | WAHYUDIN FAHMI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|