Minyak Berhenti Catat Rekor Harga Tertinggi
Rabu, 12 Maret 2008 | 09:31 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Harga minyak mentah berhenti mencatat rekor tertinggi seiring penguatan nilai mata uang dolar AS. Pengutan terjadi setelah Federal Reserve akan meminjamkan surat utang negara sebesar US$ 200 miliar untuk ditukar dengan surat utang jenis lainnya dengan para dealer utama.
"Harga minyak telah turun setelah bank sentral akan menambah likuiditas di pasar keuangan, yang akan akan menguatkan nilai dolar AS," ujar Tom Bentz, broker BNP Paribas di New York, "Trennya akan tetap naik dan butuh banyak kebijakan pemerintah untuk menghentikan aksi di balik rally ini."
Harga minyak mentah untuk pengiriman bulan April naik 40 sen (0,4 persen) ke level US$ 108,32 di perdagangan New York Mercantile Exchange kemarin (11/3). Sehari sebelumnya minyak menembus rekor tertinggi, di harga US$ 108,75. Minyak Brent di bursa berjangka London naik US$ 1,09 (1,1 persen) ke harga US$ 105,25 per barel.
Lembaga Energi International (International Energy Agency), yang menjadi penasehat untuk 27 negara maju, memotong prediksi permintaan minyak mentah global di tahun ini akibat melonjaknya harga. Permintaan minyak diperkirakan mencapai 80 ribu barel per hari dan konsumsinya hanya 87,54 juta barel per hari. Sehingga terjadi pertumbuhan permintaan sebesar 2 persen.
"Ini adalah sebuah bubble yang pada akhirnya akan pecah. Fundamental saat ini tidak menyokong kenaikan harga minyak," ujar Micahel Lynch, Direktur Strategic Energy & economic Reseach, Massachusetts.
Bloomberg | Sorta Tobing




Komentar Anda :