Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Waspadai Buih Komoditas
Rabu, 12 Maret 2008 | 14:43 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan ekonom memperingatkan agar Indonesia benar-benar mewaspadai gejala commodities bubble atau buih komoditas yang ditandai dengan kenaikan harganya belakangan ini. Sebab, jika tidak diantisipasi, gejala itu bisa menimbulkan inflasi yang di luar kendali bank sentral.

Ekonom Dradjad Hari Wibowo mengatakan terjadinya buih komoditas tersebut disebabkan oleh maraknya investor pasar uang mengalihkan hot money atau uang panas dari aset keuangan ke pasar komoditas. Langkah ini dimotivasi oleh kombinasi dari upaya diversifikasi risiko investasi dan kompensasi kerugian pasar keuangan gara-gara macet tersandung krisis subprime morgatge belum lama ini.

Menurut dia, dampak meriahnya pasar komoditas itu dipastikan akan menambah beban sangat besar terhadap APBN. Namun, di luar itu, Indonesia juga akan mengalami dampak negatif minimal tiga hal. Pertama, tingginya inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga komoditi, baik produk primer, pangan maupun migas.

Kedua, naiknya expected inflasi yang bisa-bisa di luar kendali Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Ketiga, memicu distorsi dalam soal harga relatif antar komoditas.

Dradjad khawatir, lonjakan permintaan komoditas ini akan menimbulkan pengalihan investasi di proyek-proyek komoditas. Dana perbankan dan pembiayaan bisa saja terkecoh dialihkan ke komoditas ini secara besar-besaran. Apalagi, beberapa komoditi kelihatan menguntungkan saat ini, seperti biji-bijian, minyak nabati, dan produk primer lain.

"Padahal, tingginya harga tersebut lebih merupakan bubble," ujar Dradjad. Menurut dia, komoditas perkebunan dan pertambangan mempunyai grace period yang lama dan berisiko tinggi. Jika mulai masuk masa produksi dan ternyata harga-harga anjlok, maka bubble-nya akan pecah. "Kelebihan investasi akan menimbulkan kredit macet dan krisis keuangan lanjutan," katanya. "Perbankan perlu waspada terhadap hal ini."

Heri


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119090 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok
Pasangan Karsa Unggul di Jombang
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data