Pengusaha Nilai Revisi Target Ekspor Realistis
Minggu, 16 Maret 2008 | 18:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan pengusaha menilai target pertumbuhan ekspor nonminyak dan gas bumi (migas) sebesar 13,5 persen masih realistis. Untuk mencapai target tersebut pemerintah diminta mengurangi beban biaya tinggi kegiatan ekspor. "Angka itu realistis, bahkan kami optimistis bisa melampauinya asalkan pemerintah juga mau memfasilitasi banyak hal," ujar Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Totok Dirgantara kepada Tempo, Minggu (16/3).
Seperti diketahui, pemerintah pekan lalu merevisi target ekspor nonmigas dari semula 14,5 persen menjadi 13,5 persen. Adapun target ekpor total juga diturunkan dari 12,7 persen menjadi 10,5 persen. Revisi ini mengikuti penurunan target pertumbuhan ekonomi nasional menjadi 6,4 persen dari target awal sebesar 6,8 persen.
Menurut Totok, fasilitasi yang dimaksud diantaranya tentang bantuan pemerintah atas permodalan pengusaha dalam bentuk kredit ekspor. "Untuk sektor tekstil yang melakukan peremajaan mesin butuh dana besar, mestinya pemerintah jadikan prioritas. Terlebih sektor ini pendorong ekspor," katanya.
Selain itu, kalangan pengusaha juga menuntut pemerintah segera memperbaiki kondisi infrastruktur seperti pelabuhan dan jalan yang tidak memadai. "Dan jeleknya kondisi infrastruktur tidak hanya di Jakarta, akibatnya arus barang menjadi terganggu," tuturnya.
Sebelumnya Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perdagangan Departemen Perdagangan, Erwidodo mengatakan, penurunan target ekspor terjadi pada seluruh produk yang diperdagangkan ke pasar luar negeri. “Penurunan dihitung dan disesuaikan dengan penurunan target pertumbuhan ekonomi," ujarnya pekan lalu.
Pertumbuhan ekspor non migas 2008, kata Erwidodo masih mengikuti tren
2007. Selain sawit dan produk sawit, pertumbuhan sembilan produk ekpor tahun lalu sebagai berikut, tekstil dan produk tekstil (TPT) tumbuh 7,82 persen dengan nilai ekspor US$ 10,2 miliar; produk hasil hutan tumbuh 1,73 persen dengan nilai US$ 7,9 miliar; karet dan produk karet tumbuh 12,51 persen dengan nilai US$ 6,2 miliar; elektronik tumbuh 0,29 persen dengan nilai US$ 7,9 miliar.
Selain itu otomotif tumbuh 26,82 persen dengan nilai US$ 2,1 miliar; alas kaki tumbuh 4,78 persen dengan nilai US$ 1,7 miliar; udang turun 3,33 persen dengan nilai US$ 1 miliar; kakao tumbuh 9,16 persen dengan US$ 0,9 miliar dan terakhir kopi turun 0,77 persen dengan nilai US$ 0,6 miliar.
RR ARIYANI | YULIAWATI




Komentar Anda :