Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

KPI Umumkan Tayangan Tak Layak Tonton Mei Ini
Senin, 17 Maret 2008 | 18:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan mengumumkan ke publik tayangan tak layak tonton mulai Mei 2008.

Koordinator Pemantauan Isi Siaran KPI Yasirwan Uyun menuturkan, komisi telah membentuk tim analisis untuk pengawasan isi tayangan. Tim berisi 10 orang itu akan mengawasi 24 jam sehari tayangan seluruh stasiun televisi. Hasil pantauan akan dibawa ke rapat komisi dan diteruskan ke dewan juri penilai.

“Ini untuk jemput bola. Juri akan mengumumkan acara-acara yang dinilai melanggar etika setiap dua pekan sekali,” kata Yasirwan kepada Tempo, Senin (17/3).

Dia mengatakan, pelanggaran isi tayangan seperti pornografi, kekerasan dan gangguan terhadap privasi, masih terus muncul pada tayangan televisi. Dia memastikan, tak ada satu pun stasiun televisi yang tak pernah melanggar dan menerima peringatan dari KPI. “Mereka (stasiun televisi) memang merubah isi siaran yang ditegur. Tapi namanya tayangan, bisa saja kecolongan,” ujarnya.

Sekretaris Perusahaan PT Rajawali Citra Televisi Indonesia Gilang Iskandar mengaku pernah menerima teguran atas adegan kekerasan pada tayangan sinetron yang diputarnya. “Tapi itu memang kewenangan KPI, kami menghargainya,” ujarnya.

Gilang mengungkapkan, RCTI sebenarnya telah membentuk sistem pengawasan internal. Acara hasil produksi internal maupun production house selalu disunting untuk menghindari permasalahan di kemudian hari.

Tapi, menurut dia, masalah etika tayangan sangat multitafsir. Dia mencontohkan, larangan atas tayangan yang memuat adegan memperolok. “Acara lawakan biasanya kan mengolok-olok. Tak ada standar etika tertentu di sini,” katanya.

Gilang menyambut positif rencana KPI. “Anggap saja ini bentuk pembelajaran agar suatu saat ada kesamaan penafsiran,” cetusnya.

Agoeng Wijaya


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119395 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok
Pasangan Karsa Unggul di Jombang
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data