Industri Tekstil Alihkan Impor Mesin ke Cina
Senin, 17 Maret 2008 | 19:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mengalihkan impor mesin TPT dari Eropa. Menguatnya nilai mata uang euro dibandingkan dolar membuat nilai impor mesin menjadi lebih mahal. "Pelaku industri memilih impor mesin dari negara-negara seperti Amerika, Jepang, Taiwan dan Cina," kata Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, Senin (17/3).
Negara-negara ini menggunakan mata uang dolar. Mata uang euro yang menguat 1.4 kali dari dolar membuat pengusaha berpikir ulang. Tahun lalu, kata Ade, impor tekstil didominasi dari negara Italia dan Perancis.
Menurut Direktur Industri Tekstil Departemen Perindustrian Aryanto Sagala, negara Eropa menjadi lebih aktif dalam melakukan pemasaran. "Mereka mulai buka cabang seperti di Cina dan menetapkan harga jual yang lebih murah," katanya.
Pasar mesin tekstil ke Indonesia terlihat menarik karena pemerintah sejak satu tahun teraktir aktif menggulirkan program restrukturisasi mesin TPT. Tahun ini dana APBN yang disiapkan untuk program restrukturisasi TPT senilai Rp 311 miliar.
Program ini bertujuan meremajakan mesin TPT yang sudah diatas umur 10 tahun. Program terdiri atas dua skema. Skim pertama berupa potongan harga 10 persen dari investasi mesin dan skim dua berupa pemberian kredit dengan suku bunga hingga 7 persen.
Program restrukturisasi tekstil dan produk tekstil tahun ini, kata Aryanto, akan dimulai minggu terakhir Maret. Sebelumnya sempat terancam tertunda karena belum ada pencairan dana untuk biaya pengawasan dan konsultan manajemen senilai Rp 11 miliar oleh Departemen Keuangan. "Setelah melakukan perubahan dokumen, akan segera cair," katanya.
Pemerintah mentargetkan menstimulus investasi tekstil sekitar Rp 3,5 triliun dari pengguliran program restrukturisasi mesin tekstil senilai Rp 311 miliar. Tahun lalu program TPT yang digulirkan sebanyak Rp 255 miliar dan diserap industri sebanyak Rp 153,3 miliar.
YULIAWATI





