|
Global Transport Bantah Lakukan Penarikan Investasi Adam Air
Senin, 17 Maret 2008 | 23:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
PT Global Transport Service (GTS) membantah anggapan yang mengatakan perusahaan itu melakukan penarikan investasi 50 persen saham mereka di Adam Air.
"Sampai saat ini kami masih menjadi pemegang saham. Ia (manajemen Adam Air) hanya mencari kambing hitam karena kami akan membuka kebobrokan lapangan keuangannya," ujar Kuasa hukum PT Global Transport, Hotman Paris Hutapea, Senin (17/3), di Jakarta.
Sebagai contoh kebobrokan itu, ia mengungkapkan bukti adanya uang fiktif sebesar Rp 132 miliar di kas perusahaan yang tertulis dalam laporan keuangan tahun 2005 dan 2006. "Direktur Keuangan (Gustiono Kustianto, yang juga wakil GTS) tidak pernah menemukan uang ini di bank," katanya.
Menurut Hotman, pencantuman nilai uang itu hanya sebuah rekayasa untuk mendapatkan pinjaman Rp 50 miliar di Bank Rakyat Indonesia.
Ia menjelaskan, kondisi keuangan Adam Air saat ini tidak mungkin lagi untuk membayar nilai investasi Global Transport Service sebesar Rp 157 miliar. "Mana mungkin Rp 157 miliar itu bisa ditarik. Buktinya keluarga pemilik Adam Air (keluarga Suherman) sudah menawar saham itu kepada kami seharga Rp 150 miliar," katanya sambil menujukkan bukti penandatangan nota kesepahaman transaksi itu pada 13 Maret 2008.
Karena itu, ia tidak heran jika manajemen Adam Air memutuskan melakukan penghentian sementara kegiatan operasionalnya pada 21 Maret nanti. "Mereka tidak bisa terbang karena tidak bisa membayar uang sewa dan asuransi," kata Hotman.
Ketika ditanya apakah Global Transport Service akan bertanggung jawab jika terjadi pemutusan hubungan kerja karyawan Adam Air, ia mengatakan biar hukum yang memutuskan. Karena, sesuai Undang-Undang Perusahaan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, tanggung jawab ada di tangan perusahaan atau direksi dan pemegang saham yang melakukan kesalahan. "Soal siapa yang melakukan kesalahan, biar hukum yang membuktikan," katanya.
Hotman yakin GTS tidak melakukan kesalahan karena kebobrokan keuangan telah terjadi jauh sebelum perusahaan itu masuk di Adam Air pada Mei 2007. "Ini seperti beli kucing busuk dalam karung," tambahnya. Sorta Tobing
INDEKS BERITA LAINNYA :
|