Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pengembangan Petrokimia Terganjal Harga Minyak
Selasa, 18 Maret 2008 | 19:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Industri petrokimia menunda kegiatan investasinya menyusul lonjakan harga minyak di atas US$ 100 per barel. Para pengusaha akan melakukan investasi jika harga minyak keembali ke level US$ 80.

Menurut Direktur Utama PT Tuban Petrochemical Industries Amir Sambodo, pihaknya untuk sementara menunda kegiatan investasi anak usahanya, PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). "Realisasi ekspansi menunggu minyak mentah dikisaran US$ 80 per barel," ujarnya, Selasa (18/3).

Dia menjelaskan, TPPI berencan menambah kapasitas pabrik penghasil paraxylene menjadi 1,2 juta ton per tahun dari 600 ribu ton pada saat ini. Total investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 400 juta. Paraxylene adalah produk petrokimia yang dijadikan bahan baku industri tekstil. Selain TPPI, Paraxylene dihasilkan dari kilang pengolahan Cilacap dengan kapasitas 250 ribu ton per tahun.

Apabila investasi dipaksakan, kata Amir, akan terjadi kenaikan pada harga jual produk. "Sementara paraxylene itu adalah produk subtitusi tekstil dari kapas, jadi ada kemungkinan tak diserap industri," katanya. Akibat kenaikan minyak mentah di atas US$ 100 per barel, perusahaan terpaksa menurunkan jumlah produksi. "Utilitas produksi hanya 60 persen," ujar Amir.

Dari cetak biru perusahaan, rencananya TPPI mesti memulai investasi tahun 2009 dan diproyeksikan mulai berproduksi tahun 2011. Bahan baku paraxylene berupa kondensat selama ini diperoleh dari blok Senipah sebanyak 40 ribu barel per hari.

Ketua Badan Kerjasama Asosiasi Perusahaan Industri Kimia (BKS-INKIM) Hidayat Nyakman mengatakan, harga minyak mentah membuat industri berpikir ulang untuk merealisasikan investasi. "Biaya investasi lebih tinggi sementara hasilnya masih belum bisa diperkirakan," ujarnya.

Saat ini, kata dia, kebutuhan investasi industri petrokimia sangat tinggi. Diperkirakan dibutuhkan investasi US$ 2 miliar per tahun untuk mengejar ketertinggalan. "Agar tak selalu tergantung dengan produk impor," tuturnya. Industri, kata Hidayat memerlukan stimulus berupa pembangunan infrastruktur terutama pelabuhan untuk memudahkan distribusi produk petrokimia.

YULIAWATI


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Tahun Ini Industri Manufaktur Stagnan
Chandra Asri Investasi US$ 40 Juta
Pertumbuhan Industri Masih Lambat

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119477 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Menteri Pertahanan Dukung IPO Krakatau
ACeS Menang Gugatan Lelang USO
Pejabat Cianjur Beda Pendapat soal BLT
Polisi Gerebek Pesta Ganja
Baru Tiga Kecamatan Dapat Kartu BLT

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data