Industri Kemasan Kesulitan Bahan Baku
Kamis, 27 Maret 2008 | 19:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Industri kemasan plastik kesulitan mendapat bahan baku dari produsen dalam negeri. Akibat kesulitannya, industri kemasan menambah pasokan impor bahan baku. "Pasokan bahan baku material tersendat sejak awal tahun, saat kenaikan minyak mentah melaju di atas US$ 100," kata Ketua Asosiasi Kemasan Henky Wibawa, Kamis (27/3).
Industri kemasan mendapatkan bahan baku material berupa polyetilene dan polypropilene dari PT Tripolita. Trypolita mendapatkan polyetilene dan polypropilene dari PT Chandra Asri. Harga bahan baku platik terus mengalami kenaikan. Pekan ini harga matrial polyetilene dan polypropilene menjadi US$ 1900 per ton. Adapun produk hulu seperti etilene dan propilene sekitar US$ 1550 per ton. Nafta yang menjadi bahan baku etilene dan propilene sekitar US$ 1000 per ton.
Harga pembelian impor, kata Hengky tak berbeda dengan dalam negeri. "Cuma perlu tambahan biaya penyimpanan barang di pelabuhan dan biaya transportasi dari pelabuhan," katanya.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (Inaplas) Budi Susanto Sadiman mengatakan, konsumsi bahan baku plastik Februari mengalami penurunan sebesar lima persen. Rata-rata konsumsi plastik tiap bulannya 20 ribu ton. "Ada penurunan daya beli pada Februari," ujarnya. Penurunan daya beli akibat lonjakan harga pangan yang sangat tinggi dan menurunkan konsumsi pangan yang menggunakan kemasan plastik.
YULIAWATI





