Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Krisis Minyak dan Pangan, Yudhoyono Surati PBB
Jum'at, 28 Maret 2008 | 01:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki Moon, untuk memprakarsai kerja sama global menghadapi krisis energi, pangan dan keuangan dunia. "Dengan harapan PBB mengambil prakarsa untuk betul-betul melakukan langkah tepat (mengatasi krisis)," ujarnya di Kantor Presiden, Kamis (27/3).

Menurut Yudhoyono, negara belum berkembang dan berkembang mengalami pukulan akibat lonjakan hargan minyak dan pangan dunia. Dia mengatakan, krisis global mengancam ekonomi banyak negara berkembang dan mengganggu anggaran.

Indonesia, kata Yudhoyono, mengharapkan PBB sesuai mandatnya mengambil langkah-langkah proaktif memperkuat kerja sama global. Selain itu, organisasi dunia itu bisa melakukan penggalangan kesadaran dan tanggung jawab global untuk mengelola ekonomi dunia akibat kenaikan harga minyak dan pangan.

Presiden mengungkapkan telah berbicara dengan beberapa kepala negara dan pemerintah mengenai krisis global tersebut. "Semua mengeluhkan hal yang sama akibat kenaikan harga minyak dan pangan," kata Yudhoyono.

Menurut dia, akibat kenaikan harga minyak dunia telah merepotkan anggaran dan banyak negara. Selain minyak, kata Yudhoyono, harga pangan melonjak 40 persen lebih tinggi dari sebelumnya. Krisis itu masih ditambah gejolok keuangan dunia.

Dampak dari krisis tersebut, kata dia, akan mengganggu program Millenium Development Goal untuk mengurangi kemiskinan dunia. Yudhoyono mengharapkan produsen minyak dan pangan dunia memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk mengatasi gejolak harga tersebut. "Saya harap ada respons positif dari PBB," ujarnya.

Pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, permintaan Yudhoyono kepada Sekretaris Jenderal PBB tak akan efektif untuk mengatasi krisis harga minyak. Menurut dia, gejolak harga minyak dunia disebabkan faktor di luar kendali PBB. "Permintaan itu seharusnya ditujukan kepada Saudi Arabia dan OPEC untuk menambah produksi minyak," ujarnya kepada Tempo, Kamis (27/3).

Kurtubi menjelaskan, sebelumnya Presiden Amerika George W. Bush sudah meminta agar Arab Saudi menambah produksinya. "Tapi Saudi tak bersedia menambah produksi," katanya.

Menurut dia, ada dua kemungkinan mengapa Saudi yang memproduksi minyak sampai 10 juta barel per hari tak mau menambah minyaknya. "Saudi tak mampu menaikkan produksi minyaknya atau Saudi bersama Iran dan Venezuela menginginkan harga minyak pada level US$ 100 per barel," ujarnya. Kurtubi mengatakan, yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi krisis minyak dan pangan adalah menaikkan produksi minyak nasional.

Menteri Kehutanan MS Kaban menyatakan, pihaknya akan mencanangkan program Forest for Food (Hutan Untuk Pangan) pada tahun ini. Program tersebut, kata dia, dilakukan untuk membantu mengatasi krisis pangan di Indonesia.

Menurut Kaban, lahan hutan nantinya akan dijadikan hutan pertanian (agro forestry) di Jawa dan luar Jawa seluas tiga juta hektar. Dia menjelaskan, tanaman yang bisa digunakan untuk program tersebut adalah tanaman palawija, seperti padi gogo, jagung dan ketela.

ALI NUR YASIN | NININ DAMAYANTI | FEBBY FEBYANA



Dari Arsip Majalah TEMPO
Harga Minyak, Bukan Sekadar Asumsi APBN | 11 April 2005
Jika Anggaran Tersedak Minyak  | 08 Desember 1998
Bisnis Sepekan | 10 Januari 2005
Dihantui Minyak dan Badai | 15 November 2004
Bisnis Sepekan | 18 Oktober 2004
Misteri Voucer Saddam Hussein | 18 Oktober 2004
Formula di Belakang Nol Koma | 18 Oktober 2004
Bisnis Sepekan | 11 Oktober 2004
Anggaran Masih Aman  | 07 Juni 2004
Mengandangkan Pertamina ke Kebon Sirih  | 07 Juni 2004
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Harga BBM Melambung, Indonesia Dipastikan Tak akan Kolaps
Pemerintah Pertahankan Asumsi Harga Minyak US$ 85
Harga Minyak Mentah Dekati US$ 105 per Barel
Harga Minyak Dekati US$ 105 per Barel
Menguatnya Rupiah Redam Efek Kenaikan Harga Minyak
"Kenaikan Harga Minyak Hanya Sementara"
Harga Minyak Menuju US$ 96 Per Barel
Minyak Mentah Turun Dibawah US$ 96 per Barel
Minyak Mentah Sentuh Harga US$ 100 Per Barel
Harga Minyak Turun Tembus Di Bawah US$ 90
> selengkapnya...

Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119971 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data