Karyawan Adam Air Menuntut Kepastian

Sabtu, 29 Maret 2008 | 15:51 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Perwakilan karyawan maskapai Adam Air akan meminta kepastian dari pemegang saham mengenai nasib perusahaan, apakah akan diteruskan atau tutup menyusul krisis internal belakangan ini.

"Bukan hanya demi gaji tiga bulan, tapi hak karyawan jika perusahaan tutup dan yang penting sebagai pertimbangan kelanjutan masing-masing karyawan,"kata HRD and Legal Manager PT AdamSky Connection Nasrullah Nawawi kepada Tempo , Sabtu (29/3).

Untuk itu, Senin depan rencananya perwakilan karyawan akan meminta diagendakan pertemuan formal dengan pemegang saham. Pertemua informal dan pernyataan manajemen soal hak karyawan dinilai belum kuat. "Harus ada hitam di atas putih," kata Nasrullah.

Tiga bulan ke depan memang masa penentuan bagi Adam Air menyusul pembekuan izin usaha penerbangan (Air Operator Certificate) sejak 19 Maret lalu oleh pemerintah. Adam Air dinilai melakukan penyimpangan terkait aspek keselamatan. Dengan itu, Adam Air dilarang beroperasi sementara dan jika tidak ada perbaikan dalam tiga bulan, AOC-nya akan dicabut.

Nasrullah menegaskan, kepastian masa depan Adam Air harus secepatnya ditetapkan meski kedua pihak pemegang saham masih bertikai. "Bagi karyawan bukan soal siapa yang menang kayak di Pilkada, yang penting pasti," katanya. Jika belum juga ada kesepakatan, karyawan juga akan meminta Dewan Perwakilan Rakyat memfasilitasi dialog kedua pihak.

Pada masa-masa pembekuan AOC tersebut, di Adam Air memang tengah terjadi konflik antar pemegang saham. Konsorsium Global Transport yang menguasai 50 persen saham akan hengkang dari perusahaan. Global menuding manajemen melakukan penyimpangan aspek keselamatan dan pengelolaan keuangannya tidak transparan. Konflik itu berlangsung di tengah memburuknya kondisi keuangan perusahaan yang berujung gagal bayar sewa dan asuransi pesawat.

Mengenai nasib perusahaan, sebelumnya Direktur Utama Adam Air, Adam Aditya Suherman, mengatakan semuanya tergantung kesepakatan pemegang saham. Menurut dia, Keluarga Suherman yang menguasai 50 persen saham, menginginkan maskapai dipertahankan.

Harun Mahbub






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: