Presiden Minta Produksi Minyak Digenjot

Senin, 31 Maret 2008 | 17:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Pertamina, perusahaan swasta dalam dan luar negeri meningkatkan produksi minyak dalam negeri. Optimalisasi ini untuk memenuhi kebutuhan BBM dan bahan baku bagi industri hulu petrokimia, industri antara dan industri hilir.

"Semuanya harus all out, pertamina, swasta dalam negeri, dan swasta dalam negeri kalau ingin meningkatkan produksi domestik," kata Presiden saat saat membuka Rakernas Kamar Dagang dan Industri, Senin (31/3).

Presiden mengatakan saat ini sumur-sumur marjinal yang dulu tidak ekonomis, dengan 100 dolar, semakin ekonomis. Ekspolari yang dulu sangat mahal, dengan harga minyak sekarang jadi bagus. "Cari peluang untuk tingkatkan produksi domestik. Minyak dan gas utamanya," lanjut Presiden.

Pernyataan presiden ini menanggapi pernyataan Ketua Umum Kadin, MS Hidayat meminta pemerintah melakukan upaya optimalisasi energi untuk memenuhi kebutuhan BBM dan bahan baku bagi industri hulu petrokimia, industri antara dan industri hilir.

Antara lain, melakukan penghematan, menaikkan produksi minyak,kembali ke tingkat 1,1 juta barrel perhari, meningkatkan kegiatan eksplorasi, dan segera membangun 2 kilang minyak (refinery) 200 ribu per hari.

Salah satu rekomendasi Kadin agar pemerintah mengembangkan potensi batubara kalori rendah untuk pemanfaatan dalam bentuk gas atau cair bagi bahan bakar pembangkit tenaga listrik, industri, transportasi dan rumah tangga.

Presiden juga menyesalkan lambatnya perkembangan sektor energi, terutama listrik. "Saya masih merasa sangat lambat upaya kita untuk meningkatkan listrik ini. Banyak sekali yang merugi. Birokrasi ini itu. Merugi terus kita," katanya.

Ia mengatakan, banyak gubernur mengeluh karena suplai litrik di daerah tidak mencukupi. Indonesia baru punya pembangkit 25 ribu megawatt, dan crash program 10 ribu megawatt untuk batubara. "Itupun belum cukup," katanya.

Ninin Damayanti






Komentar Anda

Kirim