Presiden Tinjau Program Konversi Minyak Tanah ke Elpiji
Minggu, 06 April 2008 | 22:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun langsung untuk mengecek perkembangan program konversi minyak tanah ke elpiji tabung tiga kilogram.Presiden mengunjungi satu pangkalan penjualan elpiji dan beberapa rumah penduduk yang awalnya menggunakan minyak tanah lalu beralih ke elpiji di Kecamatan Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Lokasi itu dipilih untuk dikunjungi karena menjadi wilayah ujicoba di Provinsi DKI Jakarta yang dimulai sejak Agustus 2006.
Sekitar pukul 16.30 WIB, Presiden dan rombongan tiba di lokasi, tepatnya di RT 10 / RW 07 Kelurahan Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Presiden terlebih dahulu mendatangi pangkalan elpiji milik Hari Hardono. Selanjutnya, ia mendatangi dua rumah penduduk, yaitu rumah Ibu Mimin dan Bapak Abdul Gani untuk melihat langsung penggunaan elpiji. Presiden pun berdialog dengan pemilik pangkalan dan warga.
"Dari dialog dengan warga, dibanding menggunakan minyak tanah, menggunakan elpiji lebih bersih, irit, dan lebih hemat," kata Presiden. Dengan respon masyarakat yang positif, Yudhoyono melanjutkan, program ini akan terus dilanjutkan. "Semoga kota-kota lain juga mengikuti Jakarta," katanya.
Dalam kunjungan kali ini, Presiden didampingi oleh sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Antara lain, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro, dan Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Juga hadir Direktur Utama PT.Pertamina Ari Soemarno, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dan Walikota Jakarta Pusat Sylviana Murni.
Menurut Presiden, dari laporan pihak Pertamina, sampai awal April 2008, konsumsi minyak tanah di Jakarta sebelum program konversi sebanyak 3.500 kiloliter per hari pada Juli 2006. Dari jumlah itu kemudian turun menjadi 600 kiloliter per hari pada April ini. "Kita akan terus lakukan ini agar program pemerintah mengurangi subsidi berhasil," kata Yudhoyono.
.
Presiden pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pemilik pangkalan, pedagang, dan masyarakat yang membantu pelaksanaan program konversi tersebut. Ia juga meminta masyarakat menuntaskan program itu sampai berhasil. "Jika berhasil bisa menghemat belasan triliun rupiah," katanya.
Di depan warga, Presiden berjanji bahwa dana hasil pengehmatan subsidi itu akan dialihkan untuk meningkatkan program kesehatan, pendidikan dan pengentasan kemiskinan."Saya mengajak masyarakat menyukseskan program ini," katanya.
Menurut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, program konversi di DKI Jakarta yang dimulai Agustus 2006, sampai 25 Maret 2008, pelaksanaannya sudah mencapai 95 persen. Pencapaian tersebut belum mencakup Kepulauan Seribu." Beberapa area sisanya sebanyak 5 persen, tersebar di beberapa daerah yang berbatasan dengan Tangerang, Jawa Barat dan Depok," katanya. .
Fauzi berharap pada akhir April 2008, program konversi di Jakarta sudah selesai sehingga pada Mei minyak tanah bersubsidi sudah bisa ditarik. "Kami juga menyiapkan cadangan untuk kompor dan tabung yang rusak. Jadi tinggal dilaporkan ke aparat," katanya.
Dari survei Pertamina di lapangan menunjukkan ada penghematan penggunaan elpiji tabung tiga kilogram dibandingkan dengan minyak tanah. Perhitungannya, satu tabung cukup untuk 8 hari dengan harga eceran Rp 13. 500. Sementara itu, untuk 8 hari minyak tanah dengan harga Rp 3.000 per liter, dibutuhkan biaya Rp 24.000. Walhasil, penghematannya mencapai Rp 10.500 dalam 8 hari.
Anton Aprianto




Komentar Anda :