Purnomo: Kepala BP Migas Harus Tekan Biaya Produksi

Senin, 07 April 2008 | 19:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengharapkan Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) baru mampu menekan biaya produksi (cost recovery). "Harapannya bisa menekan dan mengefektifkan cost recovery," ujarnya setelah mengantarkan ketiga kandidat calon Kepala BP Migas kepada Komisi Energi, Dewan Perwakilan Rakyat, Senin (7/4).

Ketiga kandidat pengganti Kepala BP Migas Kardaya Warnika, yaitu Staf Ahli Menteri Energi Evita Legowo, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi Hadi Purnomo dan Direktur Pembinaan Usaha Hulu Departemen Energi Priyono.

Pergantian tersebut, kata Purnomo, untuk penyegaran dan menjawab dinamika dalam dunia industri hulu minyak dan gas. "Persaingan berat diperlukan pimpinan yang bisa menarik investor," tuturnya. Purnomo juga mengharapkan Kepala BP Migas yang baru bisa menambah laju produksi.

Anggota Komisi Energi Effendi Simbolon meminta Kepala BP Migas yang baru bisa mengawasi biaya produksi. Tahun lalu, biaya produksi yang diganti pemerintah kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sebesar US$ 8,3 miliar. "Itu banyak sekali," ujarnya.

Menurut Effendi, orang yang akan menduduki posisi nomor satu sebagai pengawas kontrak-kontrak minyak dan gas serta kegiatan ekploitasi dan eksplorasi.

Tahun lalu, besaran biaya cost recovery untuk seluruh KKKS mencapai US$ 8,33 miliar atau Rp 77,4 triliun. Terdiri US$ 4,802 miliar (Rp 44,6 triliun) untuk memproduksi minyak dan US$ 3,535 (Rp 32,8 triliun) untuk memproduksi gas. Total angka tersebut lebih tinggi dibandingkan cost recovery 2006 sebesar US$ 7,8 miliar atau Rp 72,5 triliun.

Laporan tertulis BP Migas kepada Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat pada 23 Januari lalu menyatakan, perincian biaya tersebut terdiri atas cost recovery Pertamina EP US$ 1,956 miliar, kontrak bagi hasil US$ 161 juta dan KKKS US$ 6,219 miliar.

Produksi minyak 2002 terus menurun dibandingkan 2003. Dari 1,252 juta barel per hari menjadi 1,146 juta barel per hari pada 2003. Sedangkan produksi 2004 sekitar 1,096 juta barel per hari dan 2005 menjadi 1,06 juta barel per hari.

Berdasarkan asumsi anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan tahun ini, produksi minyak ditetapkan 927 barel per hari dan asumsi harga minyak Indonesia US$ 95 per barel. Penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp 246,3 triliun.

NIEKE INDRIETTA






Komentar Anda

Kirim