|
Pembangunan Software Park di Indonesia Masih Lemah
Rabu, 09 April 2008 | 22:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Indonesia dinilai sangat lemah dalam membangun software park ketimbang negara-negara lain di Asia. Direktur Kebijakan Software Busines Software Alliance (BSA) Asia, Goh Seow Hiong, menilai lemahnya pembangunan industri ini disebabkan buruknya dukungan infrastuktur dan minimnya riset yang memadai.
Alhasil, Indonesia kalah jauh dibandingkan India dan Cina. “Padahal, potensi Indonesia dengan jumlah penduduk sama banyaknya seharusnya tak kalah dengan negara lain,” kata Goh dalam siaran pers, Rabu (9/4).
Goh memaparkan, hasil studi Economist Intelligance Unit (EIU) tentang Perkembangan Industri Software Asia menyimpulkan pembangunan software park telah terbukti mampu menarik investasi asing dan minat para perusahaan yang bergerak di sektor teknologi.
Software park juga terbukti efektif sebagai sarana inkubator bagi para pengusaha yang bermain di industri teknologi. Sebab di software park ini mereka mendapat harga sewa kantor yang lebih murah dan bebas pajak.
EIU mengambil contoh empat software park di Malaysia, Cina, Vietnam, dan Taiwan sebagai model studi. Software park Cyberjaya di Malaysia misalnya, dibangun 1997 dengan investasi US$ 1 miliar kini diisi oleh 419 perusahaan, sebuah universitas multimedia, 34.000 pekerja, dan 14.000 orang penghuni.
“Hasilnya Malaysia menjadi negara nomor tiga di dunia yang menjadi lokasi pilihan outsourcing IT,” ungkapnya.
Agoeng Wijaya
INDEKS BERITA LAINNYA :
|