Diplomasi Ekonomi Indonesia Masih Lemah
Kamis, 10 April 2008 | 13:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Diplomasi ekonomi Indonesia dinilai masih lemah dihadapan lembaga ekonomi internasional. Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa Binny Buchori menyatakan Indonesia belum bisa menempatkan diri untuk mengambil peran dalam tata kelola globalisasi ekonomi.
"Suara dan peran Indonesia hampir tidak terlihat," katanya dalam diskusi mengenai hasil Audit Globalisasi untuk Memperkuat Suara Indonesia dalam Tata Kelola Lembaga Keuangan Internasional di Hotel Arya Duta, Kamis (10/04).
Padahal, Binny menilai kebijakan perekonomian dunia didominasi oleh lembaga keuangan internasional dan organisasi perdagangan seperti Bank Dunia, IMF dan WTO.
Menurutnya Indonesia membutuhkan visi dan strategi nasional yang visioner dalam menghadapi globalisasi. Indonesia, kata Binny, harus berhenti menempatkan diplomasi ekonomi sebagai bagian sekunder dari diplomasi politik. "Diplomasi ekonomi harus menjadi prioritas," katanya.
Peran diplomasi Indonesia menurutnya harus diperluas dengan menggunakan politik luar negeri sebagai instrumen untuk mencapai pembangunan ekonomi. Indonesia, kata Binny, juga dituntut untuk memperkuat hubungan dengan Bank Dunia dan IMF.
"Indonesia memerlukan dukungan kelembagaan dan pola kordinasi yang efektif," katanya.
Asosiate Director Perkumpulan Prakarsa Sugeng Bahagijo menyarankan Indonesia menyususn White Paper mengenai globalisasi dan diplomasi ekonomi. Sugeng juga menyarankan Departemen Luar Negeri agar diikutsertakan dalam kordinasi perekonomian.
Globalisasi ekonomi menurutnya berpotensi menimbulkan krisis seperti yang terjadi pada 1997/1998. Hal ini menurutnya bisa dicegah dengan diplomasi ekonomi yang baik.
Gunanto E S
Topik :




Komentar Anda :