Laksmi Mittal Temui Yudhoyono

Kamis, 10 April 2008 | 22:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Produsen baja terbesar di dunia, Arcellor Mittal, akan menanamkan minimal USD 3 miliar dalam bentuk kerjasama dengan PT Aneka Tambang Tbk dan PT Krakatau Steel Persero.


Hari ini, CEO Arcellor Mittal, Lakhsmi Mittal bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menko Perekonomian Boediono, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, dan Kepala BKPM, Muhammad Luthfi di Kantor Presiden.

Dalam pertemuan dengan presiden, Lakhsmi Mittal menyampaikan kebutuhan untuk mengamankan pasokan bijih besi, nikel, dan mangaan dari Indonesia. Untuk itu, Arcellor Mittal akan bekerja sama dengan dengan PT Aneka Tambang Tbk dan PT Krakatau Steel Persero.

"Kami hitung, totalnya paling sedikit USD 3 miliar," kata Kepala BKPM Muhammad Luthfi, usai pertemuan, Kamis 10/4.

Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan Mittal mengajukan tiga tawaran. Tawaran pertama, Mittal akan mengembangkan mining pertambangan yang berkaitan dengan steel. Kedua, Mittal akan mengusulkan menjadi strategic partner Krakatau Steel. Ketiga, dia mengusulkan membuat joint venture company bersama Krakatau Steel.

"Presiden tanggapi secara positif dan memerintahkan Menko Boediono untuk merumuskan secara detail sikap soal hal itu," katanya.

Fahmi mengatakan pemerintah berharap produsen baja terbesar di dunia dengan produksi 114 juta ton pertahun ini akan menggenjot produksi Krakatau Steel yang hanya 2,5 juta pertahun.

Ia menambahkan, saat ini kebutuhan Indonesia sebesar 6 juta ton/thn. Sedangkan, Krakatau Steel hanya produksi 2,5 juta dan lainnya 1,5 juta. "Jadi produksi kita 4 juta. Masih kurang 2 juta dan selama ini kita impor," katanya.

Saat ini, rata-rata konsumsi baja di Indonesia per orang 29 kilo/tahun. Tertinggi Jepang dan AS 1200/tahun. Singapura 600kilo/tahun. Malaysia dan Singapura 400 kg/tahun.

"Ini akan bawa dampak positif bagi industri baja Indonesia," katanya.

Teknis kerjasama, lanjutnya, masih perlu dibahas dengan Krakatau Steel dan tim Mittal yang ada di Indonesia.

Ninin Damayanti






Komentar Anda

Kirim