|
Produsen Biodiesel Tak Mampu Ekspor
Sabtu, 12 April 2008 | 06:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Produsen keberatan dengan usulan pemerintah mengenai ekspor produk biodiesel. Pemerintah dinilai tak memberi solusi atas situasi dalam negeri yang tak mampu menyerap hasil produksi biodiesel.
"Tak semudah itu untuk melakukan ekspor," tutur Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan saat dihubungi Jumat (11/4) malam.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, mendorong dilakukannya ekspor biodiesel. Pasalnya produk biodiesel dalam negeri dianggap tak mampu bersaing dengan BBM subsidi.
Pemerintah yang berpromosi mengembangkan program bahan bakar nabati tak mampu menyerap karena tingginya biaya produksi akibat lonjakan minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO). Mulai bulan depan Pertamina menurunkan kandungan biodiesel menjadi 1 persen.
Usulan ekspor, kata Paulus bukanlah sebuah solusi. "Kami prihatin dengan tanggapan pemerintah," ujarnya. Pasalnya, hanya produsen skala besar saja yang mampu melakukan ekspor. "Butuh investasi besar," katanya.
Investasi tak sedikit dibutuhkan karena jumlah minimal volume produksi untuk satu kali pengiriman, kata Paulus sangatlah besar. "Minimal 10 ribu ton," ujarnya. Sementara saat ini jumlah produsen yang memenuhi kapasitas ekspor hanya dua dari 22 perusahaan pemroduksi bahan bakar nabati. Untuk mampu memenuhi kebutuhan ekspor, kata Paulus, setidaknya dibutuhkan mesin produksi dan pasokan CPO yang memadai.
Dua produsen yang mampu ekspor yakni Wilmar dan Musimmas. Kedua perusahaan ini memiliki kapasitas produksi sebanyak 1 juta ton per tahun, dimana Wilmar sebanyak 700 ribu ton dan Musimmas sebanyak 300 ribu ton. Wilmar dan Musimmas, dapat berproduksi dalam jumlah besar didukung mesin produksi dan fasilitas pelabuhan milik perusahaan.
Saat ini hanya empat dari 22 perusahaan biodiesel yang mampu melangsungkan proses produksi. Dua produsen lainnya, PT Eterindo Group, PT Indobiofuel Energy, memasok biofuel untuk PT Pertamina. Sepanjang tahun 2007, seluruh produksi dua perusahaan itu sebanyak 16 ribu kilo liter dipasok ke Pertamina. Padahal kapasitas produksi dua perusahaan itu sebanyak 260 ribu ton per tahun. Akibat harga CPO yang mahal, utilitas produksi anjlok menjadi 10 persen.
Disamping soal minimnya kemampuan produsen biodiesel, kata Paulus, ekpor menjadi tak menarik karena harga jual biodiesel lebih murah daripada harga CPO. "Pasokan di pasar sangat banyak sementara permintaan berkurang," tuturnya.
Dua perusahaan ekspor biodiesel, yakni Wilmar dan Musimmas memiliki lahan perkebunan sendiri. "Mereka dapat menyiasati biaya produksi dan saat ini pun tujuannya hanya mempertahankan pasar," jelasnya.
Yuliawati
INDEKS BERITA LAINNYA :
|