Harga Minyak Dekati US$ 112 per Barel
Selasa, 15 April 2008 | 16:44 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga minyak dunia melonjak lagi dan menyetuh level tertinggi sepanjang sejarahnya. Membubungnya harga si emas hitam ini disebabkan oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap menyusutnya pasokan dan melemahnya dolar Amerika Serikat.
Di pasar utama New York, harga minyak mentah ringan untuk pengiriman Mei sempat mencapai US$ 112,09 per barel pada perdagangan sore. Pada akhir perdagangan, di New York Merchantile Exchange, harga minyak ditutup di level US$ 111,76 per barel, yang merupakan harga tertinggi sepanjang sejarah perminyakan dunia. Harga minyak tertinggi sebesar US$ 110,87 per barel terjadi pada 9 April 2008.
Para pialang menyatakan, pasar minyak dilanda sentimen negatif setelah data yang dikeluarkan pemerintah negara Abang Sam menunjukkan cadangan energi menurun tajam. Perbaikan jaringan pipa yang menghubungkan minyak ke Amerika bagian tengah memicu lonjakan harga minyak. Data Departemen Energi AS menyebutkan cadangan minyak menurun 3,2 juta barel dfan persediaan bensin berkurang 3,4 juta barel.
Semakin melemahnya dolar AS membuat investasi pada mata uang menjadi kurang menarik. Alhasil investor mengalihkan investasinya pada komoditas minyak. “Kenaikan harga minyak mencerminkan pelemahan dolar AS,” kata David Moore, dari Commonwealth Bank Australia.
Mark Pervan, dari ANZ Bank Australia berpendapat senada. “Kita bisa melihat dalam jangka pendek para pedagang akan beralih ke minyak dan melakukan lindung nilai di tengah penurunan dolar,” katanya.
Wachovia, bank terbesar ke empat di AS, Senin lalu melaporkan adanya kerugian pada kuartal keempat 2007 dan akan memangkas dividen. Bank ini membutuhkan suntikan dana segar US$ 7 miliar untuk menutupi kerugian akibat krisis kredit perumahan.
Menurut Victor Shum, analis dari Purvin & Gertz Singapura, kerugian Wachovia menunjukkan sektor perbankan dan pasar kredit masih dibayang-bayangi krisis. Kondisi itu melemahkan dolar AS dan investasinya menjadi kurang menarik dibanding komoditas. “Investor beralih dari dolar ke minyak. Akibatnya harga minyak naik lagi.
AP | AFP | padjar





