Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

IPO Pilihan Terbaik Bagi Krakatau Steel
Rabu, 16 April 2008 | 12:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat industri baja, Sudarto menilai pilihan initial public offering atau IPO sebagai langkah yang tepat untuk Krakatau Steel. Langkah IPO yang dilakukan perusahaan baja di Korea dan Taiwan terbukti berhasil. Sebaliknya, langkah akuisisi oleh perusahaan besar baja dunia cenderung mematikan potensi perusahaan baja negara-negara berkembang.

Sudarto yang sekarang menjadi tenaga pemberi saran beberapa perusahaan baja nasional mengungkapkan, Pasco (Korea) dan China Steel (Taiwan) adalah dua perusahaan yang berhasil menjadi besar setelah proses IPO.

Dia menyebutkan, Posco, China Steel dan Krakatau Steel dibangun pada periode sama yakni tahun 1970-an. Saat itu kapasitas produksi tiga perusahaan sama, yakni hanya 200 ribu ton per tahun. Namun, setelah Posco dan China Steel melakukan IPO tahun 1985, keduanya mampu meningkatkan kapasitas produksi. "Kapasitas produksi China Steel menjadi 15 juta ton per tahun dan Korea menjadi 30 juta ton per tahun ," tutur Sudarto kepada Tempo di Jakarta (16/4). Sementara itu, Krakatau Steel hingga sekarang masih berproduksi 2,5 juta ton per tahun.

Menurut Sudarto, langkah akuisisi Arcellor Mittal banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan baja yang bermasalah di negara-negara berkembang. Kecenderungan yang terjadi, kata Sudarto, Mittal akan mengeliminir saham pemerintah. "Mereka terus mengakumulasi saham sehingga menjadi pemegang saham mayoritas," tuturnya.

Di samping itu, tuturnya, perusahaan baja yang telah diakuisisi tak akan dibiarkan merebut pasar internasional yang telah dimiliki oleh Mittal. Menurut dia, ini terkait sejarah pertentangan keluarga Mittal generasi ke tiga. "Ada perjanjian untuk tak saling mengganggu industri baja milik Mittal," kata Sudarto. Kesepakatan ini, katanya, membuat keluarga Mittal yang berselisih membangun pabrik baja lainnya yakni Ispatindo.

Yuliawati


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk121372 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota
Suara NU ke Pasangan Karsa, Perempuan ke Kaji

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data