Pemerintah Percepat Penghematan BBM dan Listrik
Rabu, 23 April 2008 | 04:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mempercepat program penghematan sektor kelistrikan dan bahan bakar minyak (BBM) akibat tekanan harga minyak dunia yang menyentuh level US$ 118 per barel. Percepatan tersebut dilakukan agar subsidi yang diberikan tidak membengkak.
Demikian hasil rapat yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla di kantornya, Selasa (22/4). Hadir dalam rapat itu Menteri Koordinator Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta,Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa Direktur PLN Fahmi Mochtar dan Wakil Direktur Pertamina Iin Arifin Tahyan.
Menurut Fahmi, penghematan sektor kelistrikan dengan mempercepat penggunaan gas yang semula pada 2009 menjadi tahun ini. Percepatan penggunaan gas itu untuk PLTGU Muara Karang dan PLTGU Cilegon. "Program itu bisa hemat Rp 5 triliun," ujarnya. Selain itu PLN akan menggunakan minyak bakar sebagai pengganti solar. Pengalihan tersebut akan menghemat pengeluaran Rp 1,5-2 triliun.
Wakil Direktur Utama Pertamina Iin Arifin Tahyan mengatakan, pihaknya mempercepat konversi minyak tanah ke gas dari 15 juta menjadi 20 juta kepala keluarga pada 2008. Menurut dia, tahun akan dikonversi dua juta kiloliter minyak tanah ke gas>
Sedangkan Paskah Suzetta menjelaskan, yang dilakukan pemerintah adalah menekan volume bahan bakar minyak bersubsidi. Menurut dia, penyaluran bahan bakar bersubsidi dari Pertamina saat ini lebih besar dari jumlah yang ditentukan. "Sampai sampai akhir tahun bahan bakar bersubsidi tidak boleh melebihi 35-37 juta kiloliter," katanya.
Dia menjelaskan, pemakaian bahan bakar di Jakarta dan sekitarnya tak boleh melebihi 15 juta kiloliter. Paskah meminta Pertamina bisa berhemat sebesar lima juta kiloliter bahan bakar bersubsidi. "Presiden lebih memberikan opsi bagaimana melakukan penghematan pemakaian bahan bakar," ujarnya.
Ketua Komite Tetap Fiska dan Moneter Kamar Dagang dan Industri Bambang Soesatyo mendesak, pemerintah segera menaikkan harga bahan bakar sebesar 10 persen. Menurut kenaikan bahan bakar tak bisa dihindari akibat lonjakan harga minyak dunia ke level US$ 118 per barel.
ALI NUR YASIN | ANTON APRIANTO | GUNANTO | NIEKE INDRIETTA | EZTHER LASTANIA





