|
IMF: Indonesia Bisa Hadapi Gejolak Ekonomi Global
Kamis, 24 April 2008 | 02:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia diyakini masih bisa menahan guncangan yang terjadi pada pasar keuangan global. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan sektor keuangan di Indonesia masih menunjukkan performa yang baik.
Deputi Direktur Riset Dana Moneter Internasional Charles Collyns mengatakan pertumbuhan kredit perbankan pada kuartal pertama 2008 masih memperlihatkan kinerja yang bagus. Ini membuat sektor ekonomi masih kuat menghadapi gejolak pasar. "Tapi bulan depan kami akan up date proyeksi perekonomian Indonesia," kata Collyns di Gedung Bank Indonesia di Jakarta, kemarin.
Saat ini, ekonomi internasional disibukkan oleh melemahnya tingkat konsumsi dan investasi. Dua faktor ini diyakini bakal berdampak terhadap meningkatnya jumlah pengangguran. Bahkan di Amerika Serikat, angka pengangguran meningkat pesat sejak terjadi krisis kredit perumahan dan diperkirakan baru akan membaik tahun depan.
Dia melanjutkan, perlambatan yang terjadi di Amerika Serikat yang berlanjut ke Eropa tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap Asia dan negara-negara berkembang lainnya. Sebab, ketergantungan terhadap perekonomian Amerika Serikat tidak besar. Namun, pertumbuhan industri dan ekspor akan sedikit terpengaruh karena permintaan pasar ekspor di Amerika dan Eropa menurun.
Permintaan domestik yang kuat di Asia, menurut dia, menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di tengah guncangan yang terjadi. Untuk Indonesia, IMF meramalkan pertumbuhan ekonomi tahun ini masih tetap berada di level 6,1 persen. Sementara untuk Asia akan turun menjadi 6,2 persen dari proyeksi sebelumnya 6,6 persen. Penurunan ini karena jumlah ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa berkurang.
Untuk Asia, negara-negara di benua ini akan berfokus pada tekanan inflasi yang tinggi akibat kenaikan harga minyak dan komoditas dunia. Selain itu ekspektasi inflasi juga masih cukup tinggi. "Jadi pemerintah di wilayah Asia penting untuk menjaga tekanan inflasi tersebut," katanya. Collyns juga menyarankan agar pemerintah di negara-negara Asia, sebaiknya menjaga tekanan inflasi melalui kebijakan pengetatan di sektor moneter lalu melakukan improve policy framework.
Eko Nopiansyah
INDEKS BERITA LAINNYA :
|