close

Minyak Diyakini Tak Bakal Tembus US$ 200 Per Barel

Selasa, 29 April 2008 | 07:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah meyakini harga minyak mentah dunia tak bakal melambung lebih tinggi hingga menembus US$ 200 per barelnya. "Memang harga sulit diprediksi, tapai kalau sampai setinggi itu kok kelihatannya tidak mungkin," kata Direktur Perencanaan Makro Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Prijambodo kepada Tempo semalam.

Tingginya harga minyak, kata dia, berkorelasi terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia. Artinya kalau pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia sudah terlalu rendah maka secara otomatis harga minyak juga akan turun karena tidak ada lagi permintaan. "Jadi harga minyak ini ada titik jenuhnya," kata Bambang. "Hukum ekonominya, pertumbuhan turun akan tekan harga minyak."

Pada level US$ 120-130 per barel, sudah banyak negara yang kelimpungan berat dan hampir serentak mengoreksi target pertumbuhannya jauh lebih rendah dari rencana awal. Sehingga kalau harga sedikit di atas US$ 130 per barel diperkirakan harga minyak turun lagi. Pengecualian hanya bagi Cina yang masih tumbuh karena faktor persiapan menyambut Olimpiade.

Dia mengutip prediksi Badan Energi Amerika Serikat yang masih mengacu rata-rata harga minyak selama setahun ini sebesar US$ 101 per barel dan akan turun ke level US$ 96 pada tahun 2009. Artinya, dia yakin harga minyak akan kembali turun pada waktu-waktu depan dan rata-ratanya US$ 101 per barel. "Saya kok agak optimistis karena Amerika Serikat penya kepentingan paling besar dengan minyak. Jadi datanya saya yakini," kata Bambang.

Tingginya harga minyak di atas US$ 110 per barel, imbuhnya, dipengaruhi oleh persoalan penutupan pipa minyak utama di Inggris dan kekacauan di Nigeria. "Masalah ini saya kira hanya jangka pendek saja," kata Bambang.

AGUS SUPRIYANTO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan