|
Produksi Minyak Cepu Belum Siginifikan Hingga 2011
Rabu, 30 April 2008 | 01:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ladang minyak Blok Cepu di Bojonegoro, Jawa Timur, belum mampu menyumbang produksi minyak mentah secara signifikan. Peningkatan produksi baru terjadi pada 2011. Hingga tahun depan Blok Cepu hanya mampu memproduksi minyak mentah sebesar 20.000 barel per hari.
Juru Bicara ExxonMobil Oil Indonesia Maman Budiman mengatakan, produksi ladang Cepu belum bisa mencapai puncaknya sebelum pembangunan fasilitas produksi selesai. Operator minyak asal Amerika itu mentargetkan produksi puncaknya sebesar 160.000 barel per hari. "Belum bisa produksi sampai angka peak (puncak) kalau fasilitas dan lahan belum ada," ujarnya, Selasa (29/4).
Maman mengatakan, untuk meningkatkan produksi lebih dari 20 ribu barel per hari, perlu kelengkapan infrastuktur. "Fasilitas untuk ram up belum ada," katanya. Diantaranya, lahan, pipa dan fasilitas lain. Lahan yang dibutuhkan untuk kegiatan perminyakan ExxonMobil di Cepu sekitar 700 hektar. 100 hektar untuk produksi dan 600 hektar untuk pipa penyaluran minyak dan infrastruktur lain.
Wakil Kepala Badan Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Abdul Muin mengatakan, produksi Cepu tidak dimasukkan dalam target lifting Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2008. "Tidak kami hitung, karena produksinya akhir tahun," ujarnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah tetap optimistis produksi minyak tahun tercapai sesuai APBN Perubahan sebesar 977 ribu barel per hari. Menurut dia, selama empat bulan pertama produksi minyak nasional telah mencapai angka tersebut.
Menurut Purnomo, untuk menjamin tercapainya target itu harus segera diselesaikan sejumlah kendala. Antara lain, masalah fiskal melalui perbaikan pajak dan bea cukai untuk kegiatan eksplorasi, lingkungan, otonomo daerah, kehutanan dan minyak yang diproduksi tapi belum dijual (tank top)."Beberapa masalah itu harus diselesaikan, supaya target produksi tercapai, khusunya masalah tank top," ujarnya setelah rapat dengan Wakil Presiden, Selasa (29/4).
Hadir dalam rapat tersebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar, Kepala Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Priyono dan perwakilan 20 Kontraktor Production Sharing (KPS) di Indonesia.
Purnomo mengatakan, tank top adalah minyak yang diproduksi tapi belum dijual. Jumlahnya sampai saat ini mencapai angka 14 juta barel atau rata-rata 60 ribu barel perhari dan masih tersimpan di tempat penampungan. "Ini bisa menyebabkan kejadian lapangan minyak itu ditutup, karena terus produksi tetapi tidak ada tempat menampung," ujarnya.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Luluk Sumiarso menyatakan, selama empat bulan pertama produksi minyak mencapai 977 ribu barel per hari. Produksi itu, telah melampaui yang ditargetkan APBN Perubahan sebesar 927 ribu barel per hari.
ALI NUR YASIN | NIEKE INDRIETTA | ANTON APRIANTO
INDEKS BERITA LAINNYA :
|