|
Kondisi Keuangan Pratama Dinilai Tak Laik
Rabu, 30 April 2008 | 02:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Alasan penolakan operator telekomunikasi mengakuisisi PT Pratama Jaring Nusantara mulai terungkap. Operator menilai kondisi keuangan perusahaan pengelola Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi (SKTT) itu tak laik secara bisnis.
Director Corporate Service PT Bakrie Telecom Tbk. Rakhmat Junaidi mengatakan, keputusan tak mengambilalih Pratama adalah urusan masing-masing operator. Tapi, prinsipnya masalah finansial Pratama menjadi salah satu pertimbangan setiap operator.
“Bahwa dia (Pratama) punya utang, sudah banyak orang yang tahu,” kata Rakhmat seusai rapat tertutup membahas kelanjutan pelaksanaan Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi di gedung Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Jakarta, kemarin petang.
Rapat selama sekitar satu jam itu dihadiri oleh Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Pratama, dan seluruh operator. Tak satu pun peserta mau menceritakan detil jalannya rapat.
Namun, Rakhmat yang juga Sekretaris Jenderal Asosiasi Kliring Telemunikasi (Askitel) ini menampik
menjelaskan lebih detil soal utang Pratama. Kata dia, masih ada satu proses lagi antara operator dan Pratama untuk memperjelas implementasi sistem kliring pengganti Sistem Otomatisasi Kliring Interkoneksi (SOKI). Selama ini SOKI dikelola Askitel, perusahaan bentukan operator. “Detilnya tanya pemerintah saja.”
Penolakan operator mengakuisisi Pratama membuat pemerintah memutar otak untuk bernegosiasi dengan operator. padahal, opsi akuisisi sudah disepakati semua pihak pada pertemuan di Bali, 27 Februari 2007. Persoalannya, sudah empat tahun Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi tak bisa dilaksanakan gara-gara pemerintah dan operator belum satu kata.
Direktur Utama Pratama, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, membantah perusahaannya mengalami masalah keuangan. “Kami sehat, minum vitamin setiap hari,” ucapnya setelah rapat. Tapi, ia mengaku lupa apakah Pratama meiliki tunggakan utang. Ia hanya menyatakan pemerintah menjamin Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi tetap jalan. “Kalau SKTT tetap jalan, berarti Pratama juga jalan,” katanya.
Anggota BRTI Heri Nugroho membenarkan di balik kegagalan akuisii adalah alasan persoalan keuangan Pratama. Hal itu muncul dalam laporan hasil uji tuntas Askitel dan Pratama. “Secara finansial, uji tuntas menyimpulkan Pratama tak laik diambilalih,” ucapnya.
Namun, Heri menilai hasil uji tuntas Askitel kurang berimbang sebab yang dipantau hanya dari neraca keuangan. Dari sisi neraca keuangan jelas perusahaan yang tak punya pendapatan akibat proyek tak berjalan dianggap buruk. Uji tuntas prospek bisnis SOKI dan Sistem Kliring Trafik Komunikasi juga tak sepadan.
Ia menjelaskan, sistem kliring versi Pratama menawarkan 16 layanan dari kliring sampai konsolidasi dengan laporan keuangan setiap operator. Sedangkan SOKI hanya memberi tiga layanan dari yang ditawarkan oleh Pratama. “Ya, pantas kalau tarifnya lebih mahal dari SOKI,” ujar Heri.
Agoeng Wijaya
INDEKS BERITA LAINNYA :
|