|
Lonjakan Harga Minyak Dunia
Bappenas Usul Utang Negara Diperbesar
Rabu, 30 April 2008 | 04:40 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merekomendasikan tiga opsi kepada pemerintah untuk mengurangi tekanan terhadap anggaran negara akibat lonjakan harga minyak dunia, yang kini telah mendekati US$ 120 per barel.
Menurut Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo, opsi pertama, pemerintah menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dengan program penghematan, seperti penggunaan kartu kendali (smart card), konversi minyak tanah ke gas, dan penghematan konsumsi listrik. "Jika itu efektif akan sangat membantu mengurangi beban subsidi," katanya kepada Tempo di Jakarta.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008, asumsi harga minyak Indonesia (ICP) dipatok US$ 95 per barel. Kuota konsumsi BBM bersubsidi sebesar 35,5 juta kiloliter, dengan nilai subsidi Rp 126 triliun, dari sebelumnya Rp 46 triliun.
Naiknya beban subsidi BBM merupakan salah satu pemicu membengkaknya defisit anggaran 2008 dari semula 1,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 2,1 persen. Pinjaman asing dan lokal-penerbitan surat utang negara-merupakan salah satu sumber untuk menutup defisit itu.
Atas dasar itu, kata dia, Bappenas merekomendasi opsi kedua, yaitu pemerintah menaikkan lagi defisit anggaran lebih dari 2,1 persen. Sesuai Undang-Undang Keuangan Negara, defisit anggaran diizinkan hingga 3 persen PDB. "Untuk menutupnya pemerintah bisa menambah utang lagi," katanya.
Opsi ketiga, dia melanjutkan, pemerintah mengurangi lagi anggaran belanja kementrian dan lembaga negara lebih dari 10 persen.
Kemarin, harga minyak mentah di pasar utama New York ditutup pada harga US$ 118,12 per barel. Pada kondisi itu, harga minyak mentah Indonesia (ICP) telah mendekati US$ 104 per barel. Beban subsidi diperkirakan bisa melonjak hingga Rp 200 triliun.
Para ekonom dan pelaku bisnis pun telah mengusulkan agar pemerintah menaikkan harga BBM agar anggaran tidak jebol. Tapi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih akan mencari cara lain. Pemerintah baru akan memutuskan cara mengatasi lonjakan itu pada Juni mendatang.
Bambang menambahkan, Bappenas juga tak merekomendasi pemerintah untuk menaikkan harga BBM, karena keputusan itu bukanlah persoalan mudah. "Bukan saja sisi ekonomi, yang harus dipertimbangkan, tetapi juga sosial dan politik," ujarnya. "Menaikkan harga BBM merupakan opsi terakhir," dia menambahkan.
Di tempat terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali menegaskan APBN 2008 tetap aman kendati harga minyak dunia terus melonjak mendekati US$ 120. "Lagi pula kami sudah menyiapkan pengamanan agar APBN tetap aman," ujarnya di Jakarta kemarin.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu menambahkan, pemerintah telah menyiapkan berbagai antisipasi menghadapi naiknya harga minyak dunia. "Kami sudah membuat simulasi dan berbagai stress test," katanya.
Ekonom Universitas Indonesia Bambang P. Soemantri Brodjonegoro berpendapat pemerintah tidak memiliki pilihan lain kecuali mengurangi subsidi BBM. Tapi upaya penghematan saja tidak cukup karena kenaikan harga minyak dunia sudah sangat besar. "Kenaikan harga BBM memang tidak dapat dihindarkan lagi jika anggaran tidak dapat diselamatkan," katanya di Jakarta.
Agus Surpiyanto | Ezther Lastania
INDEKS BERITA LAINNYA :
|