Elpiji Langka Di Bandung

Jum'at, 09 Mei 2008 | 00:37 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:Kelangkaan gas elpiji di Kota Bandung kembali terjadi. Sejak sebulan terakhir, antrian memadati halaman kantor salah satu distributor gas PT Limas Raga Inti Bandung, di Jalan Emong, Bandung.

Kepala Penjualan PT Limas Raga Inti Bandung Yono Syarief mengatakan, antrian kian parah dalam satu minggu terakhir. Tak sedikit pembeli yang harus menginap di kantor Limas. “Sudah tiga hari ini malah ada pembeli yang datang (mengantri) sejak jam 6 sore,” katanya kemarin. Untuk menghabiskan 280 gas elpiji, Limas hanya membutuhkan waktu 10 menit.

Kelangkaan elpiji antara lain disebabkan cekaknya pasokan gas dari Stasiun Pengisian dan Pengiriman Bulk dan Elpiji. Sementara jumlah permintaan elpiji ukuran 12 kilogram, cenderung naik. Walhasil, Limas juga terpaksa membatasi jumlah pembelian. Setiap konsumen hanya dibolehkan membawa pulang dua tabung saja.

Yono melanjutkan, penyebab kelangkaan lantaran antrian kendaraan yang mengular di stasiun pengisian elpiji di Balongan.
Pasalnya kilang yang biasanya memasok kebutuhan gas di wilayah Jawa Barat itu, kini harus mensuplai wilayah Jawa Tengah. Akibatnya pasokan untuk konsumen juga terimbas. “Mobil kami terpaksa menginap di sana,” kata Yono.

Dodi, pengecer gas di daerah Papanggungan, terpaksa mengerahkan empat anak buahnya untuk mendapatkan delapan tabung gas elpiji. Dia sudah mengantri sejak dua minggu terakhir. ”Biasanya mengantri dari jam 9 pagi sudah dapat (gas elpiji), sekarang sudah siang tapi belum juga dapat gas,” katanya.

Walhasil harga elpiji di tingkat distributor melonjak 60 persen menjadi Rp 80 ribu dari Rp 51 ribu per tabung. “Hampir semua pengecer menaikkan harga,” kata dia.

Harga gas elpiji untuk konversi juga naik menjadi Rp 16 ribu dari sebelumnya Rp 13.500 per tabung. Namun tak mudah menemukan gas berukuran 3 kilogram ini. Dodi mengaku sudah seminggu terakhir, pemasok elpiji tidak lagi mengantar gas untuk konversi itu.

Antrian yang mengular ini, justru melimpahkan rejeki bagi calo yang mangkal di depan Limas. Ateng, warga Buah Batu mengaku seorang calo sempat menawari harga Rp 85 kilogram untuk satu buah tabung ukuran 12 kilogram.

Sesungguhnya pemerintah saat ini sedang giat menggenjot program konversi minyak tanah ke gas. Ini untuk menekan konsumsi minyak tanah dalam negeri.

Pertamina sendiri berencana menaikkan target konversi minyak tanah ke elpiji tahun ini dari 15 juta menjadi 20 juta Kepala Keluarga (KK). Naiknya target itu untuk menekan subsidi bahan bakar minyak lantaran melonjaknya harga minyak mentah dunia.

Ahmad Fikri






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: