Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

"Proposal ArcelorMittal Tak Fokus"
Jum'at, 09 Mei 2008 | 03:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menilai presentasi proposal ArcelorMittal tidak fokus terkait rencananya menguasai saham Krakatau Steel. Selama hampir satu jam, Mittal justru hanya mempresentasikan perusahaannya. "Sedangkan keinginannya terhadap PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) hanya disampaikan sedikit pada akhir presentasi," ujar sumber Tempo di pemerintahan, yang terlibat langsung dalam pertemuan antara Kementerian Negara BUMN dengan Mittal, Kamis (8/5).

Menurut sumber itu, perwakilan Mittal yang mempresentasikan proposalnya lebih banyak berbicara normatif ketimbang bicara teknis. "Jadi pembahasan tadi kesannya mengambang dan tidak jelas," ungkapnya.

Saat ini sudah ada empat peminat Krakatau Steel : ArcelorMittal, Bluescope Steel Limited International, Essar Steel Limited dan Tata Steel Limited. Arcelor Mittal pihak yang pertama kali menyatakan minat akuisisi Krakatau dan bertemu langsung dengan Presiden pada 10 April 2008. Pemerintah membatasi penjualan saham ke mitra strategis tak lebih dari 50 persen.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan kedatangan Mittal ini hanya merupakan perkenalan saja. "Mereka hanya membacakan propsal seperti yang dahulu dilakukan saat bertemu Presiden," katanya setelah pertemuan itu.

Sofyan mengatakan, pertemuan ini merupakan tahapan formal antara Mittal dengan Krakatau Steel dan Aneka Tambang "Nanti akan ada pertemuan lanjutan," ujarnya.

Adanya permintaan pertemuan lanjutan tersebut dibenarkan oleh Komisaris Utama Krakatau Steel, Taufiequrachman ruki. Dia mengatakan bahwa Menteri Negara BUMN meminta manajemen Krakatau Steel dan Aneka Tambang melakukan pembahasan lanjutan yang lebih detil dan teknis dengan Mittal. "Jadi pembahsannya nanti business to business," kata Ruki.

Namun, dia melanjutkan, waktu pembahasan lanjutan dengan Mittal tersebut harus dibahas dahulu oleh manajemen Krakatau Steel. "Jadi kami belum tahu kapan waktunya yang tepat," tuturnya.

Menanggapi kedatangan Mittal tersebut, Ruki menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Tapi menurutnya, manajemen Krakatau Steel tetap bersikeras menolak rencana strategic sale (penjualan kepada mitra strategis). "Mereka bilang untuk mencapai kapasitas produksi yang diinginkan pemerintah cukup dengan IPO (pelepasan saham ke publik) saja," katanya.

Alasannya, kata Ruki, karena saat ini kinerja Krakatau sedang moncer, dengan indikasi mampu mengantongi laba sekitar Rp 411 miliar hingga Mei ini. "Padahal target kami tahun ini sebesar Rp 430 miliar."

Sedangkan Direktur Utama Aneka Tambang Dedi Aditya Sumanagara menilai, tawararan Mittal kurang sesuai dengan bisnis inti Aneka Tambang. "Soalnya Mittal memproduksi carbon steel, sedangkan kami stainless steel," katanya.

Executive Vice President ArcelorMittal Sudhir Maheshwari menyatakan, pihaknya akan mengakuisisi saham Krakatau sebanyak 49 persen. "Tak lebih dari 49 persen," ujarnya. Dia menolak memberitahukan hasil pertemuan negosiasi di Kementerian BUMN pada Kamis (8/5). "Pertemuan berlangsung positif dan konstruktif, kami tak bisa memberitahukan secara detil karena ini tapi rahasia."

Dia menegaskan ArcelorMittal berpeluang besar menjadi pemenang dalam proses akuisisi Krakatau. Menurut Sudhir, pihaknya akan melobi DPR untuk menjelaskan rencana akuisisi tersebut. "Kami siap memberikan penjelasan agar dewan bisa memahami rencana kami," katanya. ArcelorMittal, kata dia, tak tertarik dengan tawaran IPO. "Kami tidak mempertimbangkannya."

Sedangkan Presiden Direktur Bluescope untuk Indonesia-Malaysia, Rob Crawford menyatakan keseriusan untuk mengakuisisi Krakatau. "Kami sangat meminati privatisasi Krakatau. Kami menghormati proses yang ditetappkan pemerintah," katanya setelah bertemu dengan Fahmi Idris, Kamis (8/5). Perwakilan Bluesope ditemani dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer.

Fahmi mengatakan, Bluecope menjanjikan memberikan teknologi dalam pengembangan Krakatau. "Mereka juga menyanggupi penambahan tenaga kerja," katanya.

Dia menjelaskan, proses negosiasi pemerintah dengan penawar mitra strategis dilakukan sejak kemarin. Menurut dia, proses perundingan diserahkan ke Kementrian BUMN.

WAHYUDIN FAHMI | YULIAWATI | ALI NY


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

BlueScope Belum Spesifik Minati Krakatau Steel
Departemen Pertahanan: Krakatau Steel Industri Strategis
Penjualan Krakatau Dibatasi Maksimal 35 Persen
Perdana Menteri Australia Hadiri Konferensi Perubahan Iklim
Jumlah BUMN akan Dipangkas Dari 140 ke 125
Presiden Minta BUMN Bersaing
Restrukturisasi BUMN akan Dipercepat

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122765 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

SBY Diminta Evaluasi Kinerja Menteri ESDM
Jenazah Sophan Sophiaan Tiba Di Rumah Duka
Jenazah Sophan Tiba Di Bandara Soekarno Hatta
DKI Sisir Kawasan Radio Dalam
Rumah Duka Sophan Sophian Dikerumuni Wartawan

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data