|
Stasiun Televisi Lebih Utamakan Penilaian Publik
Senin, 12 Mei 2008 | 00:21 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Stasiun televisi berpendapat bahwa masyarakat sebagai juri utama program-program mereka. Tapi, penilaian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) soal konten bermasalah akan dijadikan bahan evaluasi.
Direktur Program PT Indosiar Visual Mandiri Tbk. (Indosiar) Triyandi Suyatman mengatakan, tolok ukur utama tayangan sebuah program adalah pemirsa. “Penilaian buruk kan pendapat KPI, tapi sebuah program itu dinilai jutaan orang,” katanya kepada Tempo di Jakarta kemarin. “Sejak dulu etika muatan konten selalu pro-kontra.”
KPI Jumat pekan lalu mengumumkan 10 tayangan televisi yang dinilai melanggar Standar Program Siaran 2007. Tayangan-tayangan itu mengandung unsur kekerasan -- fisik, sosial, atau psikologis --- berupa tindakan verbal dan nonverbal, pelecehan terhadap kelompok masyarakat dan individual, penganiayaan terhadap anak, serta tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan dan kesusilaan. (lihat tabel)
Ini hasil pantauan tim yang diketuai Arief Rahman atas sinetron serial, variety show, dan tayangan anak sebanyak 198 episode dari 75 judul acara di SCTV, RCTI, TPI, Global TV, ANTV, TVRI, Trans TV, dan Trans 7 pada 1-13 April. Ketua KPI Sasa Djuarsa Sendjaja menjelaskan, organisasinya hanya menjadikan pengumuman itu sebagai peringatan. Jika stasiun televisi mengabaikan, KPI akan memberikan sanksi administratif. "KPI masih berbaik hati dan menjadikan ini sebagai lampu kuning," katanya dalam keterangan pers KPI.
Triyandi berharap, KPI menilai acara dari sudut pandang yang lebih luas. Ia mencontohkan program “Super Seleb Show di Indosiar yang dicap mengandung kekerasan verbal. Triyandi menduga itu terjadi ketika presenter acara melontarkan guyonan.
Di sisi lain, “Super Seleb Show” diminati masyarakat. Hingga Maret 2008, menurut survey AGB Nielsen, variety show komedi dan lagu ini bertengger di puncak rating dengan 30 persen share kepemirsaan di 10 kota.
Menurut General Manager Produksi PT Global Informasi Bermutu (Global TV) Irwan Hendarmin, masyarakat memang cenderung gandrung pada acara-acara yang dibumbui kekerasan, kemewahan, dan mimpi harapan. “Kalau tayangannya lurus-lurus saja pasti tak ditonton, rating juga jeblok.”Itu sebabnya, ia pesimistis stasiun televisi akan begitu saja mengganti acara sebab program sudah distok untuk beberapa episode.
Agoeng Wijaya | Ig. Widi Nugroho
INDEKS BERITA LAINNYA :
|