|
Icon+ Ramaikan Persaingan Bisnis Internet
Rabu, 14 Mei 2008 | 00:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Icon+ bisa menjadi pesaing berat dalam bisnis jasa penyedia layanan Internet atau Internet Service Provider (ISP). Anak perusahaan PT Perusahaan Lisrik Negara ini akan menawarkan teknologi Broadband over Powerline (BPL) yakni layanan Internet melalui kabel listrik PLN.
Teknologi ini menawarkan data dan voice dengan biaya super murah. “Modem yang dipakai hanya perlu daya listrik 5-10 watt sekali colok," kata Sekretaris Korporat Icon+, Didi Ali Achmadi, kepada Tempo di Jakarta kemarin. Tegangan listrik juga tak banyak berpengaruh terhadap kapasitas data atau voice yang terkirim. "Mau 450 atau 900 Watt, selama listriknya menyala bagus data terkirim."
Ia menerangkan, tak ada tambahan biaya yang besar sehingga lebih kompetitif dibanding teknologi yang menggunakan fiber optik atau wireless. Pengguna pun tak perlu khawatir sebab dengan data yang lewat cukup tinggi. Dibandingkan dengan teknologi yang setara seperti ADSL atau kabel dan radio wireless, koneksi BPL lebih stabil.
Bandwith-nya juga lebih besar, yakni 200 megabyte per second (mbps). Teknologi BPL ini, Didi menerangkan, berbasis Internet Protocol sehingga tak akan ada masalah dengan muatan data, voice, atau gambar. nah, untuk memisahkannya hanya diperlukan modem pemisah yang disewakan selama berlangganan. Itu sebabnya, Icon+ percaya diri mengembangkan teknologi ini.
Mengenai izin penyelenggaraan Internet dan data, sudah diperoleh dari Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi pada 2001, sedangkan untuk voice diperoleh 2007.
Didi menuturkan, untuk mengembangkan bisnis Icon+ menggandeng lima investor lokal. Targetnya akhir tahun ini atau awal tahun 2009 layanan diluncurkan ke publik. Jika berhasil, perusahaan ini bakal meluncurkan layanan voice.
Vice President Public and Marketing Communication PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Eddy Kurnia mengatakan perusahaannya siap bersaing dengan kompetitor baru itu. Toh, layanan Internet dan broadband Telkom sudah sampai ke pelosok. "Setiap kompetitor pasti akan memberi dampak,” ucapnya. Untuk menghadapi kompetitor baru, Telkom akan mempercepat infrastruktur dan jaringan. Masyarakat menunggu dari kecepatan akses layanan Speedy dan Telkomnet Instan.
Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan meski biayanya lebih murah dibutuhkan perangkat tambahan untuk memisahkan data, voice dan listrik. Persoalan energi listrik harus diperhatikan. “Misalnya pemadaman bergilir atau byar-pet seperti itu. Belum lagi penanganan jaringannya," ujarnya.
Didi menerangkan, dengan daya 5-10 watt untuk modem pelanggan hanya mengeluarkan biaya listrik Rp 150 per hari untuk 24 jam. Jika modem terus aktif 24 jam selama 30 hari, bioaya listrik sebulan Rp 4.500.
Namun, ia mengaku belum tahu soal skema biaya pendaftaran dan berlangganan sebab masih dibahas apakah dalam bentuk paket atau fixed. "Kami usahakan lebih kompetitif, pelanggan hanya membayar pelayanan saja." Yang pasti, biaya lebih mahal jika layanan menggunakan fiber optik.
Untuk tahap awal, modem masih didatangkan dari luar negeri sehingga biayanya bisa berubah. Tapi jika kebutuhannya besar, modem bisa diproduksi di Indonesia. Nah, pembiayaan perangkat ini yang akan ditanggung oleh lima investor. Icon+ hanya menyediakan fiber optic dari gardu listrik. Sedangkan jaringan dari gardu listrik ke rumah-rumah akan dibiayai investor.
Dian Yuliastuti
INDEKS BERITA LAINNYA :
|