close

Krakatau Akan Hitung Kembali Aset

Rabu, 14 Mei 2008 | 01:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Krakatau Steel (Persero) akan melakukan penghitungan kembali nilai (reevaluasi) atas aset-aset perusahaan baja nasional itu. Penghitungan kembali ini dianggap penting dalam persiapan menghadapi privatisasi. "Dengan adanya reevaluasi dapat diketahui nilai sebenarnya aset Krakatau," ujar Komisaris Utama Krakatau Steel Taufiequrachman Ruki kepada Tempo, Selasa (13/5).

Menurut dia, manajemen akan melakukan tender untuk memilih konsultan keuangan yang akan melakukan penilaian. Saat ini aset Krakatau yang tercatat sebesar Rp 11 triliun. Investasi pemerintah pada 34 tahun lalu di perusahaan baja itu adalah US$ 2,5 miliar dengan nilai tukar Rp 450 per 1 US$.

Menurut Ruki, dari hasil reevaluasi nantinya, kemungkinan ada peningkatan aset baik dalam bentuk fisik atau non fisik (tangible dan intangible). "Apalagi dilihat dari posisi pasar perusahaan," ujarnya.

Penghitungan kembali ini, kata dia, penting untuk menghadapi persiapan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Hingga kini, pemerintah cenderung mengambil opsi gandeng mitra strategis. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan bersama Dewan Perwakilan Rakyat.

Anggota Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat Zulkieflimansyah mengatakan, alih teknologi tak akan pernah terjadi dalam proses penjualan ke mitra strategis atau strategic partnership dengan mitra asing. "Teknologi itu sesuatu rasa yang mengakar pada pikiran orang, tak mudah untuk ditransfer," ujarnya.

Dia mengatakan, Krakatau merupakan aset negara yang berperan strategis dalam menentukan perkembangan industrialisasi di tanah air. "Pemerintah harus tetap kontrol, Krakatau strategis sebagai pemasok bahan baku untuk industri perkakas," katanya.

Di tempat terpisah Institute for Development of Economics and Finance Indonesia (INDEF) menilai skema strategic sale Krakatau Steel dapat menghambat perkembangan usaha. Ekonom INDEF Iman Sugema menyatakan bahwa secara empiris pola strategic sale justru akan mengkerdilkan industri itu sendiri. "Karena selama bersinergi dengan pesaing tidak akan ada manfaatnya," ujarnya.

Dia menyangsikan kemungkinan adanya transfer teknologi dari investor asing dalam transaksi ini. Karena umumnya negara-negara lain selalu berusaha untuk merebut teknologi. "Jadi untuk mengembangkan teknologi sendiri, Krakatau Steel harus berdiri di atas kaki sendiri," ujar Iman.

Menurutnya, persoalan seperti ini sudah sering terjadi dalam privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Contohnya kasus penjualan Jakarta International Container Terminal (JICT) dan PT Indosat Tbk.," kata dia.

YULIAWATI | WAHYUDIN FAHMI | ALI NY

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan