Indonesia Desak India Fleksibel
Kamis, 15 Mei 2008 | 18:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah Indonesia mendesak India untuk bersifat fleksibel dalam menegosiasikan skema perdagangan bebas dengan negara Asia Tenggara yang tergabung ASEAN. Diharapkan negosiasi itu akan menurunkan tarif pada berbagai sektor kedua negara. "India harus fleksibel. Yang penting masih ada keinginan baik untuk menyelesaikan perundingan ini," ujar Direktur Kerja Sama Regional Departemen Perdagangan Iman Pambagyo, Kamis (15/5).
Dia menilai, perundingan yang alot antara anggota ASEAN dan India karena sikap negara itu ngotot untuk menutup sektor pertanian, khususnya minyak sawit mentah (CPO) dari klausul perdagangan bebas.
Sebelumnya, pemerintah juga mengaku pesmistis kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-India bakal terwujud sesuai target Maret 2008.Hingga kini India masih menerapkan bea masuk CPO yang sangat tinggi di atas 50 persen dan akan menurunkan mulai 2018.
Sedangkan dua negara ASEAN yang paling berpengaruh, Malaysia dan Indonesia, berharap tarif impor minyak kelapa mentah dan tersuling masing-masing turun menjadi 30 dan 40 persen. Indonesia meminta agar India menurunkan tarif itu sebelum 2018. Karena, dengan pembukaan pasar India saat ini, akan dapat dimanfaatkan kalangan industri Indonesia untuk jangka panjang.
Menurut Iman, perundingan kerja sama ASEAN-India baru akan dimulai kembali setelah ditekennya naskah perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN-Australia dan Selandia Baru. "Mungkin setelah dengan Australia dan Selandia Baru selesai bisa dimulai lagi perundingan dengan India," katanya.
Jika dibandingkan dengan proses negosiasi ASEAN-India dan ASEAN-Australia-Selandia Baru, perundingan dengan India dinilai sangat lamban. "Kalau dengan India sudah lima tahun belum selesai juga perundingannya," ujarnya.
Negosiasi ini juga agak alot karena ASEAN menolak tawaran India untuk menurunkan tarif di empat produk pertaniannya, antara lain CPO, lada, teh dan kopi menjadi 50 persen. ASEAN ingin tarif itu turun minimal 40 persen, sedangkan India saat ini kelihatannya bersiap untuk kompromi dan menurunkan tarif menjadi 45 persen.
RR ARIYANI






Komentar Anda :